IHSG Turun 0,88%, Sektor Industri Jadi Penekan Utama
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Jumat (27/03/2026) seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama terkait ketidakpastian gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data perdagangan hingga jeda sesi pertama, IHSG berada di level 7.101 atau turun 0,88 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan bursa saham Asia yang cenderung variatif.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup aktif dengan nilai transaksi mencapai Rp5,71 triliun. Sebanyak 10,6 miliar saham diperdagangkan dalam 790 ribu kali transaksi, mencerminkan tingginya dinamika pasar meski indeks berada di zona negatif.
Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari sektor perindustrian, infrastruktur, dan teknologi yang masing-masing terkoreksi 1,52 persen, 1,3 persen, dan 0,84 persen. Selain itu, sejumlah saham mencatatkan penurunan signifikan, di antaranya PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) yang turun 15 persen, PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) melemah 14,8 persen, serta PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) yang terkoreksi 13,7 persen.
Di sisi lain, beberapa bursa di kawasan Asia seperti Tiongkok dan Hong Kong justru mencatatkan penguatan, menunjukkan adanya perbedaan respons investor terhadap sentimen global.
Sentimen utama yang memengaruhi pasar berasal dari perkembangan geopolitik, khususnya ketidakpastian negosiasi antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump dilaporkan menunda tenggat waktu kesepakatan, yang memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan dan dampaknya terhadap pasar energi global.
“Pembicaraan sedang berlangsung dan, meskipun ada pernyataan keliru dari media berita palsu dan pihak lain, pembicaraan tersebut berjalan sangat baik,” ujar Trump melalui unggahan media sosial, sebagaimana dilansir Bloombergtechnoz, Jumat (27/03/2026).
Meski demikian, laporan lain menyebutkan Iran belum mengajukan permintaan penundaan dan masih mempertimbangkan langkah negosiasi lanjutan. Teheran juga mendorong penghentian konflik secara menyeluruh, termasuk yang melibatkan Hezbollah di Lebanon.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan diri sambil menunggu kepastian arah kebijakan dan perkembangan geopolitik global, yang dinilai akan menjadi penentu utama pergerakan pasar ke depan. []
Penulis: Arya Pratama | Penyunting: Redaksi01
