IHSG Turun 3,05 Persen di Tengah Aksi Jual Asing
JAKARTA – Tekanan jual oleh investor asing membayangi pergerakan saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026. Kondisi tersebut turut menyeret pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berakhir di level 7.137,21 atau terkoreksi 3,05 persen.
Aksi jual bersih atau net sell investor asing paling besar terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Nilai penjualan bersih tercatat mencapai Rp971,99 miliar dengan harga saham yang turun 4,36 persen menjadi Rp3.510 per saham.
Tekanan serupa juga dialami saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang mencatat net sell sebesar Rp538,04 miliar. Harga saham bank tersebut turun 4,62 persen hingga berada di posisi Rp4.750 per lembar.
Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turut dilepas investor asing dengan nilai Rp386,94 miliar dan terkoreksi 0,70 persen menjadi Rp4.240 per saham. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatat net sell Rp273,58 miliar dengan penurunan harga sebesar 1,79 persen ke level Rp6.875 per saham.
Data perdagangan menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada sektor perbankan. Sejumlah emiten lain seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga mengalami tekanan jual.
Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi pada hari tersebut mencapai Rp13,64 triliun dengan volume perdagangan sekitar 26,88 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 656 saham tercatat melemah, 113 saham menguat, dan 189 saham tidak mengalami perubahan harga.
Investor asing secara keseluruhan mencatatkan net sell sebesar Rp221,84 miliar pada perdagangan tersebut. Dengan demikian, total aksi jual bersih investor asing selama sepekan di pasar reguler mencapai Rp1,23 triliun.
Secara mingguan, IHSG tercatat melemah hingga 5,91 persen dan menandai penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Dalam periode satu bulan terakhir, indeks acuan pasar saham Indonesia itu juga telah terkoreksi hingga 13,09 persen.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan pasar saham domestik dipengaruhi oleh sentimen global yang cenderung risk-off serta koreksi yang terjadi di sejumlah bursa saham Asia setelah penurunan di pasar saham Wall Street.
“Penurunan ini sejalan dengan sentimen risk-off global dan pelemahan mayoritas bursa saham Asia pasca koreksi di Wall Street,” sebagaimana dilansir Kontan, Senin (16/03/2026).
Selain faktor eksternal, kenaikan harga minyak dunia juga dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal pemerintah apabila melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menjelang periode libur Lebaran, investor disebut cenderung bersikap wait and see sehingga aktivitas transaksi di pasar saham menjadi lebih berhati-hati.
Di sisi lain, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebelumnya juga memberikan sinyal pembagian dividen dari kinerja tahun buku 2025. Bank tersebut berencana membagikan dividen senilai Rp41,3 triliun kepada para pemegang sahamnya, termasuk investor besar seperti Anthoni Salim dan perusahaan investasi global BlackRock. []
Redaksi
