Industri Penerbangan Tertekan, Biaya Naik Penumpang Turun
JAKARTA – Industri penerbangan nasional menghadapi tekanan ganda akibat lonjakan biaya operasional dan penurunan jumlah penumpang, seiring memanasnya konflik geopolitik global yang berdampak langsung pada rute internasional dan rantai pasok.
Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (INACA) melaporkan, kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global akibat konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang mendorong kenaikan biaya serta melemahkan permintaan pasar penerbangan.
Salah satu dampak paling signifikan terjadi pada penerbangan internasional, terutama menuju kawasan Timur Tengah dan Eropa. Maskapai terpaksa mengalihkan jalur penerbangan untuk menghindari wilayah konflik, sehingga jarak tempuh menjadi lebih panjang dan biaya bahan bakar meningkat. “Terdapat penambahan biaya operasional maskapai yang melakukan penerbangan ke luar negeri karena harus melakukan rute memutar,” kata INACA sebagaimana dilansir Detik Travel, Kamis, (26/03/2026).
Di sisi lain, jumlah penumpang juga menunjukkan tren penurunan, khususnya pada rute umrah yang selama ini menjadi kontributor utama trafik internasional. Potensi kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia turut terancam menurun akibat situasi global yang tidak stabil.
Tidak hanya itu, gangguan juga terjadi pada aspek teknis operasional. INACA mencatat keterlambatan pengadaan suku cadang pesawat (spareparts), dari sebelumnya 2–3 hari menjadi 7–10 hari. Kondisi ini turut diperburuk oleh meningkatnya biaya logistik yang membebani maskapai.
Meski demikian, periode mudik Idulfitri 2026 sempat memberikan dorongan positif bagi industri. INACA mengapresiasi Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub), atas sinergi dalam menjaga kelancaran transportasi udara selama masa angkutan Lebaran. “INACA sebagai Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional berterima kasih dan memberikan penghargaan kepada Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan,” sebagaimana diberitakan Detik Travel, Kamis, (26/03/2026).
INACA menilai kolaborasi antarpemangku kepentingan, termasuk kebijakan diskon tiket pesawat, menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas layanan selama periode puncak tersebut. Namun, tekanan global dinilai sebagai tantangan lanjutan yang memerlukan respons kebijakan cepat.
Untuk menjaga keberlangsungan industri, INACA mengusulkan sejumlah langkah kepada pemerintah, antara lain penundaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) avtur dan tiket domestik, keringanan biaya bandara, serta penjadwalan ulang pembayaran layanan bandara dan navigasi penerbangan.
Dengan berbagai tekanan tersebut, industri penerbangan nasional kini berada pada fase krusial yang membutuhkan dukungan kebijakan agar tetap mampu menjaga konektivitas dan stabilitas layanan di tengah dinamika global. []
Penulis: Hendra Setiawan | Penyunting: Redaksi01
