Industri Soda Ash Pertama RI Dibangun di Bontang

BONTANG – Pembangunan pabrik soda ash oleh PT Pupuk Kalimantan Timur diproyeksikan membuka peluang kerja cukup besar bagi masyarakat lokal. Pada masa puncak konstruksi, proyek industri tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 800 tenaga kerja, dengan sebagian besar di antaranya diprioritaskan bagi warga Kota Bontang, sebagaimana diwartakan Pranala, Minggu, (16/03/2026).

Ketua Tim Persiapan Proyek Soda Ash Pupuk Kaltim, Rifki Adi Nugroho, menjelaskan kebutuhan tenaga kerja akan meningkat secara bertahap mengikuti perkembangan tahapan pembangunan. Puncak kebutuhan tenaga kerja diperkirakan terjadi pada periode Desember 2026 hingga Januari 2027.

“Pada tahap konstruksi, kebutuhan tenaga kerja akan terus bertambah hingga mencapai sekitar 800 orang pada masa puncaknya,” ujar Rifki, Sabtu (14/03/2026), dalam kegiatan buka puasa bersama wartawan Bontang.

Ia menegaskan perusahaan bersama pihak kontraktor berkomitmen mematuhi ketentuan Pemerintah Kota Bontang yang mewajibkan minimal 75 persen tenaga kerja berasal dari daerah setempat.

Selain menyerap tenaga kerja secara langsung, pembangunan fasilitas industri tersebut juga diperkirakan memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Berbagai kebutuhan selama proses konstruksi akan melibatkan sektor usaha di sekitar wilayah proyek, mulai dari penyedia konsumsi, jasa penunjang proyek hingga layanan logistik.

“Efeknya tidak hanya pada tenaga kerja langsung, tetapi juga pada usaha-usaha lokal yang ikut terlibat selama proses pembangunan,” jelasnya.

Pabrik tersebut nantinya akan memproduksi soda ash, bahan baku penting yang banyak digunakan dalam industri kaca. Permintaan terhadap komoditas ini terus meningkat karena digunakan dalam berbagai produk seperti kaca otomotif, kaca bangunan, hingga panel solar cell untuk energi terbarukan.

“Selama ini, kebutuhan soda ash di Indonesia masih dipenuhi melalui impor karena belum ada pabrik yang memproduksinya di dalam negeri. Makanya melalui proyek ini, kami ingin menghadirkan pabrik soda ash pertama di Indonesia, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri,” tutur Rifki.

Fasilitas produksi tersebut direncanakan memiliki kapasitas sekitar 300 ribu metrik ton per tahun. Selain menghasilkan soda ash, proses produksi juga akan menghasilkan amonium klorida yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk.

Sebagian bahan baku utama telah tersedia di lingkungan Pupuk Kaltim, yaitu amonia dan karbon dioksida (CO₂). Gas CO₂ yang biasanya menjadi emisi industri akan dimanfaatkan kembali dalam proses produksi sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan menekan emisi karbon.

“Dengan memanfaatkan gas CO₂, dapat membantu mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi proses industri,” sebutnya.

Adapun bahan baku tambahan berupa garam akan dipasok dari luar daerah. Dalam proses produksinya, pabrik ini akan menggunakan teknologi Hou Process yang dikembangkan ilmuwan Tiongkok, Hou Debang.

Karena teknologi tersebut belum pernah diterapkan di Indonesia, proyek ini berpotensi melibatkan tenaga kerja asing dalam proses transfer pengetahuan kepada tenaga kerja nasional.

“Ini akan menjadi pengalaman baru karena teknologi ini belum pernah digunakan di Indonesia,” kata Rifki.

Proyek pembangunan pabrik soda ash ini dimulai sejak 19 Juni 2020 dan saat ini masih berada pada tahap perancangan serta persiapan lahan. Aktivitas konstruksi diperkirakan mulai meningkat pada pertengahan 2026 dan berlangsung hingga akhir 2027 sebelum memasuki tahap pengujian fasilitas produksi.

Pabrik yang akan dibangun di kawasan industri dengan kebutuhan lahan sekitar 16 hektare tersebut ditargetkan mulai memasarkan produknya pada Maret 2028. Apabila berjalan sesuai rencana, proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri bahan baku strategis di Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian industri nasional. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *