Inggris Usir Diplomat Rusia sebagai Balasan atas Tuduhan Spionase
LONDON – Hubungan diplomatik antara Inggris dan Rusia kembali memanas setelah pemerintah Inggris secara resmi mengumumkan pengusiran seorang diplomat Rusia dari wilayahnya. Langkah tersebut disebut sebagai tindakan timbal balik atas keputusan Moskow yang lebih dulu mengusir seorang diplomat Inggris pada Januari lalu dengan tuduhan terlibat aktivitas spionase.
Pemerintah Rusia sebelumnya menuding diplomat Inggris yang diusir sebagai mata-mata yang tidak terdaftar. Tuduhan tersebut ditolak keras oleh otoritas London dan dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap perwakilan diplomatik Inggris di Rusia.
Kantor Urusan Luar Negeri Inggris atau Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO), seperti dilansir Reuters, Selasa (03/02/2026), menyatakan bahwa keputusan mengusir diplomat Rusia diambil setelah Inggris memanggil Duta Besar Rusia di London untuk menyampaikan protes resmi. Pemanggilan tersebut menegaskan sikap Inggris yang menilai tindakan Rusia tidak berdasar dan melanggar norma hubungan diplomatik internasional.
“Dengan memanggil Duta Besar Rusia, seorang pejabat senior FCDO menjelaskan bahwa Inggris tidak akan mentoleransi intimidasi terhadap staf Kedutaan Besar Inggris dan oleh karena itu, kami mengambil tindakan timbal balik hari ini, mencabut akreditasi seorang diplomat Rusia,” kata seorang juru bicara FCDO dalam pernyataan pada Senin (02/02/2026).
Dalam pernyataan lanjutan, juru bicara FCDO menegaskan bahwa tuduhan spionase yang dialamatkan Rusia kepada diplomat Inggris dinilai tidak memiliki dasar hukum maupun bukti yang jelas. Inggris menilai pengusiran tersebut sebagai langkah sepihak yang tidak dapat dibenarkan dalam praktik hubungan antarnegara.
Juru bicara FCDO juga menyampaikan peringatan tegas kepada Moskow agar tidak melanjutkan pola tindakan serupa terhadap diplomat Inggris yang masih bertugas di Rusia.
“Setiap tindakan lebih lanjut yang dilakukan oleh Rusia akan dianggap sebagai eskalasi dan akan ditanggapi secara pantas,” tegas juru bicara FCDO tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar Rusia di London belum memberikan pernyataan resmi terkait pengusiran diplomatnya oleh pemerintah Inggris. Sikap diam Moskow dinilai sejumlah pengamat sebagai bagian dari strategi diplomatik yang tengah berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang lebih luas.
Perseteruan diplomatik ini terjadi di tengah konflik Ukraina yang masih berkecamuk. Sejak perang tersebut pecah, hubungan Rusia dengan negara-negara Barat, termasuk Inggris, memburuk secara signifikan. Kedua belah pihak saling melontarkan tuduhan terkait aktivitas spionase, campur tangan politik, hingga tekanan terhadap diplomat asing.
Sejumlah diplomat Barat yang bertugas di Moskow sebelumnya juga mengungkapkan bahwa mereka kerap menjadi sasaran pengawasan ketat dan perlakuan yang dinilai mengganggu. Situasi ini memicu kekhawatiran akan kembalinya praktik-praktik diplomatik yang mengingatkan pada ketegangan era Perang Dingin.
Pengusiran diplomat kini kembali menjadi instrumen politik luar negeri yang digunakan negara-negara besar untuk menunjukkan sikap dan ketegasan mereka. Meski lazim terjadi dalam konflik diplomatik, langkah semacam ini berpotensi mempersempit ruang dialog dan meningkatkan risiko eskalasi hubungan bilateral.
Para analis menilai bahwa keputusan Inggris ini tidak hanya ditujukan sebagai respons langsung terhadap Rusia, tetapi juga sebagai pesan kepada komunitas internasional bahwa London tetap berpegang pada prinsip perlindungan terhadap diplomat dan menolak segala bentuk intimidasi dalam hubungan internasional. []
Siti Sholehah.
