Insiden Kereta di Jalur Machu Picchu Tewaskan Konduktor
JAKARTA – Insiden kecelakaan kereta api yang terjadi di jalur menuju situs warisan dunia Machu Picchu, Peru, berdampak luas terhadap aktivitas pariwisata dan keselamatan transportasi di kawasan tersebut. Ratusan wisatawan akhirnya dievakuasi setelah layanan kereta api kembali dibuka secara bertahap, sehari setelah dua kereta api bertabrakan secara langsung di jalur tunggal pegunungan Andes.
Kecelakaan itu menyebabkan satu orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Akibat insiden tersebut, ribuan wisatawan sempat terjebak di kota Aguas Calientes, kota kecil yang menjadi pintu masuk utama menuju Machu Picchu.
Dilansir AFP, Kamis (01/01/2026), sekitar 700 wisatawan asal Peru dan 1.300 turis mancanegara dari berbagai negara tidak dapat meninggalkan wilayah tersebut sejak kecelakaan terjadi pada Selasa (30/12/2025). Gangguan layanan transportasi membuat aktivitas keluar-masuk ke situs arkeologi itu terhenti total selama lebih dari satu hari.
Operator kereta api PeruRail menyatakan bahwa layanan kereta mulai kembali dijalankan secara terbatas pada Rabu (31/12/2025), dengan prioritas utama mengevakuasi wisatawan yang terdampar. Jalur kereta api ini merupakan satu-satunya akses utama menuju Machu Picchu selain jalur pejalan kaki, sehingga gangguan operasional langsung berdampak signifikan.
Sebagian besar wisatawan memang mengandalkan kombinasi perjalanan kereta api dan bus untuk mencapai kawasan Machu Picchu, yang terletak di ketinggian Pegunungan Andes dan setiap harinya menerima rata-rata sekitar 4.500 pengunjung. Ketergantungan pada satu jalur transportasi membuat risiko keselamatan dan kemacetan logistik menjadi sorotan pascakecelakaan ini.
Insiden bermula ketika dua kereta api bertabrakan secara frontal di jalur tunggal yang menghubungkan Ollantaytambo dengan Machu Picchu. Salah satu kereta dioperasikan oleh PeruRail, sementara kereta lainnya milik Inca Rail. Tabrakan keras tersebut menewaskan seorang konduktor dan menyebabkan 40 penumpang mengalami luka dengan tingkat keparahan yang beragam.
Pejabat pemerintah Peru, Ernesto Alvarez, menyampaikan bahwa sebagian korban masih memerlukan perawatan medis lanjutan. Ia juga menyinggung adanya dugaan kelalaian manusia sebagai faktor utama kecelakaan.
“Tampaknya salah satu masinis, karena suatu alasan, entah tidak melihat atau tidak mengindahkan (sinyal), atau mengira tidak akan ada konsekuensi dan mengabaikannya,” menurut Alvarez.
Pihak berwenang setempat telah mengambil langkah hukum awal dengan menahan empat pekerja kereta api untuk dimintai keterangan. Polisi juga melakukan tes alkohol guna memastikan tidak ada unsur pelanggaran prosedur keselamatan kerja.
Sementara itu, dua korban luka dilaporkan masih dirawat di rumah sakit hingga Rabu. Pemerintah Peru menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengoperasian kereta api di jalur wisata tersebut, mengingat tingginya jumlah pengunjung internasional dan pentingnya keselamatan transportasi.
Insiden ini memunculkan kembali perdebatan soal manajemen lalu lintas di jalur tunggal kawasan wisata serta kebutuhan peningkatan sistem pengawasan dan sinyal. Machu Picchu sebagai destinasi kelas dunia dinilai memerlukan standar keselamatan transportasi yang setara dengan reputasinya sebagai salah satu situs budaya terpenting di dunia. []
Siti Sholehah.
