Inspeksi Pasar Minggu: Stok Melimpah, Harga Cabai Jadi Sorotan

JAKARTA – Pemerintah memastikan ketersediaan bahan pokok nasional tetap aman pasca-Idulfitri 2026 meski terjadi fluktuasi harga pada sejumlah komoditas, menyusul hasil inspeksi lapangan di pasar tradisional.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso meninjau langsung kondisi harga dan pasokan di Pasar Minggu, Sabtu (28/03/2026). Dari hasil pemantauan tersebut, pemerintah menilai stok pangan utama masih mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Persediaan banyak, beras banyak, ayam stoknya banyak, telur banyak, sayur-sayuran banyak, walaupun mungkin pedagang belum 100% ya, mungkin sudah 60-70% yang buka,” ucap Zulkifli Hasan sebagaimana dilansir Liputan6, Sabtu (28/03/2026).

Dalam tinjauan tersebut, pemerintah menemukan adanya variasi harga antar komoditas. Beberapa bahan pokok mengalami penurunan, sementara sebagian lainnya masih mengalami kenaikan tipis. Telur dilaporkan relatif stabil, sedangkan harga ayam menunjukkan tren kenaikan ringan.

Sementara itu, komoditas cabai menjadi sorotan utama karena disparitas harga yang cukup tinggi. Cabai merah keriting mengalami penurunan, tetapi cabai rawit merah justru melonjak tajam hingga menembus kisaran Rp100.000 hingga Rp110.000 per kilogram.

“Cabai merah disebut cabai setan ya, saking mahalnya naik dia, karena pedas katanya, itu naik harganya,” ujarnya.

“Cabai merah, iya yang kecil yang segini, itu yang paling mahal, iya itu tadi Rp100-an (Rp100.000-an) harganya,” lanjutnya.

Pemerintah menilai fluktuasi harga tersebut masih dalam batas wajar dan akan terus melakukan pemantauan distribusi serta harga secara berkala. Langkah ini dilakukan untuk memastikan stabilitas pasokan tetap terjaga di seluruh wilayah Indonesia.

Selain pemantauan di ibu kota, Menko Pangan juga merencanakan kunjungan ke sejumlah daerah seperti Lampung dan Jawa Tengah guna memastikan kondisi serupa terjadi di tingkat regional. Upaya ini menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan pasokan dan harga pasca momentum hari besar keagamaan.

Dalam kesempatan terpisah, pemerintah juga menegaskan bahwa dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, tidak berdampak langsung terhadap pasokan pangan nasional. Hal ini karena Indonesia tidak bergantung pada impor pangan dari kawasan tersebut.

“Perang Timur Tengah itu soal makanan tidak berdampak kepada kita. Karena kita tidak ada impor apapun dari Timur Tengah soal makanan,” tegas Zulkifli Hasan.

Pemerintah juga mengantisipasi potensi dampak tidak langsung dari kenaikan harga energi global dengan memperkuat produksi dalam negeri, khususnya pada sektor pangan strategis.

“Ya sementara perintah Bapak Presiden, produksi kita harus ditingkatkan. Makanya ini kan Bapak Presiden kita bersyukur ya, sudah memperkirakan ini akan terjadi,” katanya.

Selain itu, penguatan sektor protein hewani juga menjadi fokus pemerintah melalui pembangunan fasilitas produksi seperti tambak dan pusat pakan ternak di berbagai daerah.

“Tahun ini kita akan besar-besaran bangun, apa namanya, untuk protein. Ada tambak, ada enam yang akan dibangun Agrinas untuk pakan, dan ayam-petelur dan penggemuk ayam, ada enam. Termasuk di tempat saya di Lampung, ada di Jawa Timur, dan sebagainya. Jadi kita sudah antisipasi jauh,” tutur dia.

Pemerintah optimistis langkah penguatan produksi domestik dan pengawasan distribusi akan menjaga stabilitas harga pangan dalam jangka menengah, sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. []

Penulis: Immanuel Christian | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *