Internet Iran Diputus, Trump Lirik Starlink Milik Elon Musk
WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat tengah mempertimbangkan langkah diplomatik yang tidak lazim dalam merespons krisis komunikasi di Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan rencananya untuk berbicara dengan pengusaha teknologi Elon Musk guna membahas kemungkinan pemulihan akses internet di negara tersebut, yang saat ini mengalami pemadaman layanan di tengah gelombang unjuk rasa antipemerintah.
Trump menyampaikan hal itu saat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan kerja sama dengan perusahaan SpaceX milik Musk, yang mengoperasikan layanan internet satelit Starlink. Layanan tersebut diketahui telah dimanfaatkan di sejumlah wilayah konflik dan pembatasan informasi, termasuk Iran.
“Dia sangat ahli dalam hal semacam itu, dia memiliki perusahaan yang sangat bagus,” kata Trump merujuk pada Musk, saat berbicara kepada wartawan, Senin (12/01/2026).
Pernyataan Trump muncul di tengah sorotan internasional terhadap kebijakan pemerintah Iran yang memutus layanan internet dan seluler sejak Kamis (08/01/2026) pekan lalu. Langkah tersebut dinilai mempersempit ruang komunikasi publik dan menghambat arus informasi dari dalam negeri, saat demonstrasi besar-besaran mengguncang berbagai kota di Iran.
Hingga kini, Elon Musk maupun pihak SpaceX belum memberikan tanggapan resmi atas rencana komunikasi yang disampaikan Trump. Meski demikian, wacana tersebut mempertegas posisi perusahaan teknologi swasta sebagai aktor penting dalam isu geopolitik modern, terutama ketika akses informasi menjadi bagian dari konflik antara negara dan warganya.
Hubungan Trump dan Musk sendiri tidak selalu berjalan mulus. Keduanya pernah berada dalam satu barisan politik ketika Musk mendukung kampanye pemilihan presiden Trump yang berujung pada kemenangan. Setelah itu, Musk sempat dipercaya memimpin sebuah departemen khusus yang bertugas melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap struktur pemerintahan federal AS.
Namun, relasi tersebut sempat memburuk secara terbuka. Ketegangan mencuat tahun lalu ketika Musk menentang rancangan undang-undang pajak yang menjadi andalan kebijakan ekonomi Trump. Perselisihan itu memicu jarak politik antara keduanya, meski belakangan hubungan tersebut kembali menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Bulan ini, Trump dan Musk terlihat makan malam bersama di resor Mar-a-Lago. Pada saat yang hampir bersamaan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dijadwalkan mengunjungi fasilitas SpaceX di Texas, memperkuat spekulasi adanya koordinasi strategis antara pemerintah AS dan perusahaan teknologi tersebut.
Dalam konteks Iran, Musk sebelumnya secara terbuka mendukung penggunaan Starlink untuk membantu warga mengakses internet di tengah pembatasan pemerintah. Sikap serupa pernah diambil saat Iran dilanda unjuk rasa besar pada 2022, menyusul kematian Mahsa Amini di dalam tahanan polisi.
Pada periode itu, Gedung Putih yang masih dipimpin Presiden Joe Biden bekerja sama dengan Musk untuk mengaktifkan layanan Starlink di wilayah Iran sebagai upaya menjaga arus informasi tetap terbuka.
Kini, Iran kembali menghadapi gelombang protes sejak 28 Desember lalu. Aksi unjuk rasa yang awalnya dipicu lonjakan biaya hidup berkembang menjadi perlawanan yang lebih luas terhadap pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak revolusi 1979.
Penindakan aparat keamanan terhadap demonstrasi tersebut memicu kecaman internasional. Data terbaru dari kelompok aktivis menyebutkan sedikitnya 544 orang tewas, terdiri atas 496 demonstran dan 48 anggota pasukan keamanan Iran.
Rencana Trump untuk melibatkan Musk dalam isu pemulihan internet di Iran menandai pendekatan baru dalam diplomasi Amerika Serikat. Teknologi tidak lagi sekadar alat komersial, tetapi juga instrumen kebijakan luar negeri yang berpotensi memengaruhi dinamika politik, hak asasi manusia, dan kebebasan berekspresi di tingkat global. []
Siti Sholehah.
