Iran Murka, Ancaman Trump Dinilai Campur Tangan Urusan Dalam Negeri

TEHERAN — Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait gelombang demonstrasi yang terjadi di sejumlah kota Iran. Ancaman Trump yang menyebut Amerika Serikat “siap bertindak” dan “datang menyelamatkan” demonstran Iran memicu reaksi keras dari pemerintah di Teheran, yang menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk campur tangan langsung terhadap urusan dalam negeri negara berdaulat.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa unjuk rasa yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir merupakan persoalan internal yang harus diselesaikan tanpa intervensi asing. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka mengecam pernyataan Trump dan menyebutnya sebagai langkah yang berbahaya serta berpotensi memperkeruh situasi kawasan.

“Pesan Trump hari ini, kemungkinan dipengaruhi oleh pihak-pihak yang takut akan diplomasi atau secara keliru meyakini bahwa diplomasi tidak diperlukan, adalah ceroboh dan berbahaya,” sebut Araghchi dalam pernyataan via media sosial X pada Jumat (02/01/2026) waktu setempat.

Araghchi juga menegaskan bahwa mayoritas aksi protes yang terjadi di Teheran dan kota-kota lain berlangsung secara damai. Ia menyoroti inkonsistensi sikap Washington dengan mengingatkan bagaimana Trump sebelumnya mengerahkan Garda Nasional AS untuk menangani unjuk rasa di kota-kota besar Amerika Serikat.

Nada serupa disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Ia menekankan bahwa rakyat Iran memiliki kapasitas untuk menyelesaikan persoalan mereka sendiri melalui jalur dialog. “Cukup dengan meninjau catatan panjang tindakan para politisi Amerika yang dilakukan atas nama ‘menyelamatkan rakyat Iran’ untuk memahami kedalaman apa yang disebut sebagai ‘empati’ Amerika terhadap bangsa Iran,” ucapnya.

Baghaei mengaitkan pernyataan Trump dengan sejarah panjang hubungan Iran-AS yang sarat konflik, mulai dari kudeta terhadap PM Mohammad Mossadegh pada 1953, insiden penembakan pesawat sipil Iran tahun 1988, hingga dukungan AS terhadap Saddam Hussein dan Israel. “Dan hari ini, sekali lagi, ada ancaman serangan terhadap Iran dengan dalih kepedulian terhadap rakyat Iran, yang secara terang-terangan melanggar prinsip paling mendasar dari hukum internasional,” ujar Baghaei.

Ancaman Trump sendiri disampaikan menyusul laporan adanya korban jiwa dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. “Jika Iran menembak dan membunuh demonstran, yang beraksi damai, secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak,” tegas Trump.

Unjuk rasa di Iran dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan merosotnya nilai mata uang Rial. Aksi tersebut bermula di Grand Bazaar Teheran sebelum menyebar ke wilayah lain, dengan sebagian di antaranya berubah menjadi kerusuhan.

Pemerintah Iran menuding adanya “kekuatan eksternal” yang memperkeruh situasi. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Shamkhani, memperingatkan bahwa keamanan nasional Iran adalah garis merah. “Setiap campur tangan yang menyerang keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dihadapkan pada respons-respons. Keamanan nasional Iran adalah garis merah (red line), bukan bahan untuk cuitan adventurisme,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, menilai potensi intervensi AS justru akan memperluas instabilitas kawasan. “Trump harus mengetahui bahwa campur tangan Amerika dalam masalah internal ini akan sama saja mengganggu stabilitas seluruh kawasan dan merugikan kepentingan Amerika,” kata Larijani. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *