Iran Pilih Jalan Damai, Tapi Takkan Lepas Kekuatan Nuklirnya
TEHERAN – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tetap berkomitmen terhadap perdamaian dunia, namun menolak tekanan asing yang berupaya menghentikan program nuklir dan pengembangan rudal pertahanan milik Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian menanggapi kabar dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Iran telah menanyakan kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi oleh Washington.
Dalam keterangan yang dikutip Reuters, Sabtu (08/11/2025), Pezeshkian menegaskan bahwa Iran bersedia berdialog secara terbuka dengan pihak internasional, selama proses perundingan tidak disertai paksaan untuk membatasi hak negara dalam bidang teknologi maupun pertahanan.
“Kami bersedia mengadakan perundingan di bawah kerangka kerja internasional, tetapi tidak jika mereka mengatakan Anda tidak dapat memiliki ilmu pengetahuan (nuklir), atau hak untuk mempertahankan diri (dengan rudal), atau kami akan mengebom Anda,” kata Pezeshkian.
Pezeshkian menyebut Iran menginginkan hubungan damai dengan seluruh negara di dunia, namun menolak menjadi korban standar ganda dari kekuatan Barat yang dinilai menekan Teheran secara sepihak.
“Kami ingin hidup di dunia dengan damai dan aman, tetapi tidak dipermalukan, dan tidak dapat diterima jika mereka memaksakan apa pun yang mereka inginkan kepada kami dan kami hanya melayani mereka,” tegasnya.
Ia menyoroti kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya yang disebut mendukung Israel dengan suplai senjata, namun pada saat yang sama melarang Iran mengembangkan sistem pertahanan rudal.
“Mereka memasok senjata ke Israel sementara mereka melarang kami memiliki rudal untuk pertahanan, lalu mereka mengebom kami kapan pun mereka mau,” ujarnya menambahkan.
Pernyataan Pezeshkian muncul di tengah hubungan yang kembali memanas antara Teheran dan Tel Aviv. Sebelumnya, kedua negara sempat terlibat bentrokan selama 12 hari perang pada pertengahan Juni lalu.
Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk ilmuwan terkemuka di bidang nuklir.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah kota Israel. Aksi saling serang tersebut menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang selama ini sudah rapuh.
Washington sendiri memandang program nuklir Iran sebagai ancaman global, sementara Teheran menegaskan bahwa proyek itu semata-mata untuk kepentingan damai dan penelitian energi.
Bagi Iran, kemampuan pertahanan—termasuk kepemilikan rudal dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer—dipandang sebagai langkah pencegahan terhadap potensi agresi dari Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya.
Meski dikritik banyak pihak, pemerintah Iran berulang kali menegaskan tidak sedang mengembangkan senjata nuklir ofensif.
“Program kami bukan untuk perang, tetapi untuk menjaga agar bangsa ini tidak ditindas dan tidak diancam oleh siapa pun,” ujar salah satu pejabat kementerian pertahanan Iran dalam kesempatan terpisah.
Pernyataan Pezeshkian mempertegas posisi Iran yang ingin menjaga kedaulatan nasional sembari tetap membuka peluang diplomasi. Namun, pesan utamanya jelas: perdamaian hanya akan tercapai jika disertai penghormatan terhadap hak dan martabat setiap bangsa. []
Siti Sholehah.
