Iran Tentukan Mashhad sebagai Tempat Pemakaman Khamenei

JAKARTA – Pemerintah Iran bersiap melaksanakan prosesi pemakaman bagi mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Jenazah tokoh berpengaruh tersebut rencananya akan dimakamkan di kota suci Mashhad, salah satu pusat spiritual terpenting bagi umat Muslim Syiah.

Informasi mengenai lokasi pemakaman tersebut dilaporkan oleh kantor berita Iran, Fars, yang menyebut pemerintah telah menetapkan Mashhad sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi Khamenei. Kota tersebut dipilih karena memiliki kedekatan historis dengan keluarga Khamenei, sekaligus merupakan lokasi makam ayahnya yang berada di kompleks makam Imam Reza Shrine.

Mashhad dikenal sebagai kota terbesar kedua di Iran dan memiliki status religius yang sangat penting. Kota ini sering dijuluki sebagai “Kota Suci” karena menjadi lokasi berdirinya kompleks suci Imam Reza, tempat dimakamkannya Imam kedelapan dalam tradisi Syiah. Kompleks tersebut menjadi tujuan utama ziarah bagi jutaan umat Syiah dari berbagai negara setiap tahunnya.

Sebelum jenazah dimakamkan, pemerintah Iran merencanakan penyelenggaraan prosesi penghormatan terakhir yang berskala besar di ibu kota negara.

“Sebelum pemakaman, “upacara perpisahan besar” akan diadakan di Teheran,” kata Garda Revolusi di akun Telegram mereka.

Upacara tersebut diperkirakan akan dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi negara, tokoh agama, serta masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei. Meski demikian, hingga saat ini pemerintah Iran belum menetapkan tanggal pasti pelaksanaan pemakaman.

Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/02/2026) waktu setempat. Serangan tersebut merupakan bagian dari eskalasi konflik yang melibatkan Iran dengan kedua negara tersebut, yang dalam beberapa hari terakhir memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah.

Setelah kematian Khamenei, sistem pemerintahan Iran untuk sementara dikelola oleh sebuah dewan transisi yang terdiri dari tiga tokoh penting negara. Dewan tersebut beranggotakan presiden, kepala lembaga peradilan, serta seorang ahli hukum dari Guardian Council, lembaga yang memiliki kewenangan dalam mengawasi legislasi dan proses pemilihan umum.

Dewan sementara ini akan menjalankan pemerintahan hingga Assembly of Experts menentukan pemimpin tertinggi Iran yang baru. Majelis tersebut beranggotakan 88 ulama yang memiliki wewenang memilih sekaligus mengawasi posisi pemimpin tertinggi negara.

Namun, laporan dari kantor berita Fars menyebut bahwa proses pertemuan terakhir majelis tersebut kemungkinan akan mengalami penundaan. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan kondisi keamanan yang belum stabil pasca-serangan militer.

Fars, mengutip seorang pejabat yang mengetahui proses tersebut, melaporkan bahwa “untuk alasan keamanan”, pertemuan terakhir majelis dapat ditunda hingga setelah pemakaman Khamenei.

Situasi keamanan di Iran sendiri dilaporkan masih tegang setelah sejumlah fasilitas penting menjadi target serangan. Media Iran melaporkan bahwa gedung yang digunakan oleh Assembly of Experts di kota suci Qom, yang berada di selatan Teheran, turut menjadi sasaran serangan pada Selasa (03/03/2026). Selain itu, markas utama lembaga tersebut di ibu kota juga dilaporkan terdampak serangan sehari sebelumnya.

Peristiwa tersebut semakin memperumit situasi politik di Iran, yang kini harus menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni eskalasi konflik militer di tingkat internasional serta proses transisi kepemimpinan nasional. Banyak pengamat menilai pemilihan pemimpin tertinggi baru Iran akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan negara tersebut ke depan, terutama dalam menghadapi ketegangan geopolitik yang masih berlangsung. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *