Iran: Tidak Mencari Perang, Tapi Tak Akan Diam Diserang

BEIRUT – Pemerintah Iran kembali menegaskan posisinya dalam ketegangan regional Timur Tengah dengan menyatakan tidak memiliki keinginan untuk terlibat dalam perang terbuka dengan Israel maupun Amerika Serikat. Namun, Teheran menegaskan kesiapan penuh untuk melakukan pembalasan jika kembali menjadi sasaran serangan militer. Sikap ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan yang masih rapuh pascaperang tahun lalu.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, saat melakukan kunjungan kenegaraan selama dua hari ke Lebanon. Dalam lawatan itu, Araghchi menyoroti situasi keamanan regional yang menurutnya masih diwarnai ancaman serius, khususnya dari kemungkinan serangan lanjutan Israel dengan dukungan Amerika Serikat.

Kekhawatiran itu menguat mengingat pengalaman Iran pada Juni tahun lalu, ketika konflik bersenjata selama 12 hari mengakibatkan tewasnya sejumlah pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir Iran akibat serangan Israel. Dalam periode yang sama, Amerika Serikat juga melancarkan serangan udara terhadap fasilitas pengayaan nuklir Iran, yang semakin memperkeruh hubungan Teheran dengan Washington dan Tel Aviv.

Di hadapan para pejabat Lebanon, Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap mengedepankan pendekatan defensif dalam kebijakan keamanannya. Meski demikian, ia menekankan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam jika kedaulatannya kembali dilanggar.

“Amerika dan Israel telah menguji serangan mereka terhadap Iran dan serangan ini serta strateginya mengalami kegagalan besar. Jika mereka mengulangnya, mereka akan menghadapi hasil yang sama,” kata Araghchi.

Ia kembali menegaskan sikap negaranya dengan pernyataan tegas:
“Kami siap untuk pilihan apa pun. Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami siap untuk itu.”

Selain menyinggung isu keamanan, Araghchi juga membuka kembali peluang diplomasi, khususnya terkait program nuklir Iran. Ia menyatakan bahwa Teheran tidak menutup pintu perundingan dengan Amerika Serikat, selama proses tersebut berlangsung atas dasar saling menghormati dan kepentingan bersama, bukan tekanan sepihak.

“Namun saya mengatakan bahwa negosiasi harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepentingan bersama,” ujarnya.

“Kami meyakini bahwa begitu Amerika mencapai hasil yang merupakan negosiasi yang konstruktif dan positif, bukan perintah yang bersifat mendikte, adalah kerangka kerjanya, maka pada saat itulah hasil negosiasi tersebut akan membuahkan hasil,” cetusnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kebijakan “tekanan maksimum” yang kembali diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak Februari lalu. Kebijakan itu bertujuan membatasi kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir, namun mencakup langkah-langkah militer yang memicu ketegangan, termasuk serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada tahun sebelumnya.

Iran sendiri telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir tahun 2015. Meski demikian, Teheran secara konsisten menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai. Klaim ini tetap diperdebatkan oleh negara-negara Barat dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang menyatakan Iran pernah memiliki program senjata nuklir terorganisir hingga tahun 2003.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Trump bulan lalu melontarkan peringatan keras bahwa Washington tidak akan ragu melancarkan serangan militer lanjutan jika Iran berupaya membangun kembali kapasitas nuklirnya. Di tengah tekanan tersebut, pernyataan Araghchi mencerminkan upaya Iran untuk menyeimbangkan sikap antara kesiapan militer dan pembukaan jalur diplomasi, sembari mengirim sinyal tegas bahwa setiap agresi baru akan direspons secara setimpal. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *