Jakarta Alami Lonjakan Harga Beras, UMKM Ikut Terdampak

JAKARTA – Kenaikan harga beras premium di wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta pada Sabtu (11/04/2026) memicu tekanan baru terhadap pengeluaran rumah tangga, seiring tren serupa yang juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan pokok lainnya.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga beras premium tercatat mencapai Rp16.500 per kilogram atau mengalami kenaikan dibanding hari sebelumnya. Kondisi ini menempatkan beras sebagai salah satu komoditas utama yang mengalami tekanan harga di tengah dinamika pasar pangan.

Selain beras premium, sejumlah bahan pokok lain juga mengalami kenaikan, antara lain bawang merah, minyak goreng curah, cabai rawit merah, dan cabai merah besar. Dari 16 komoditas yang dipantau, sebanyak tujuh komoditas tercatat mengalami kenaikan harga sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis (12/03/2026).

Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari distribusi yang belum optimal, peningkatan biaya produksi, hingga lonjakan permintaan musiman. Selain itu, hambatan logistik dari daerah produsen ke konsumen turut mendorong kenaikan biaya transportasi yang berimbas pada harga jual di tingkat pasar.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada konsumen rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner. Peningkatan harga bahan baku berpotensi menekan margin keuntungan, bahkan dilaporkan dapat menurunkan laba hingga 25 persen akibat lonjakan biaya produksi.

Dalam upaya meredam gejolak harga, pemerintah melalui Perum Bulog mengoptimalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini bertujuan menjaga ketersediaan beras di pasar sekaligus menahan laju kenaikan harga agar tetap dalam batas wajar.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan beras SPHP dalam kemasan 2 kilogram dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan, guna membantu masyarakat memperoleh akses pangan yang lebih terjangkau.

Di sisi lain, tren kenaikan harga beras juga dipengaruhi faktor global. Kenaikan harga beras di kawasan Asia, termasuk negara produsen utama seperti India dan Thailand, turut memengaruhi harga domestik. Pembatasan ekspor, perubahan nilai tukar, serta kenaikan biaya input produksi menjadi faktor utama yang memicu lonjakan harga di pasar internasional.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah terus mendorong penguatan produksi dalam negeri, perbaikan sistem distribusi, serta optimalisasi cadangan pangan nasional guna menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang.

Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam berbelanja, termasuk mempertimbangkan alternatif konsumsi seperti beras medium atau beras SPHP, serta memantau informasi harga resmi guna menghindari spekulasi pasar yang merugikan. []

Penulis: Maman Suparman | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *