Jelang Libur Lebaran, IHSG Tertekan Aksi Jual Investor
JAKARTA – Tekanan jual menjelang libur panjang Idulfitri diperkirakan masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (17/03/2026). Pelaku pasar cenderung bersikap defensif, sehingga indeks diproyeksikan melanjutkan koreksi dalam jangka pendek.
Berdasarkan analisis sejumlah sekuritas, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 6.745 hingga 6.887, setelah sebelumnya ditutup melemah 1,61 persen ke level 7.022 pada Senin (16/03/2026). Tekanan tersebut dipicu kombinasi sentimen global dan aksi ambil untung (profit taking) menjelang periode libur panjang.
Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi teknikal.
“Hal tersebut berarti, terdapat kemungkinan IHSG masih akan melanjutkan koreksinya ke rentang 6.745-6.887. Adapun area penguatan terdekat berada di 7.115-7.176,” kata Herditya, sebagaimana diberitakan Liputan6, Selasa, (17/03/2026).
Ia menjelaskan, level penopang (support) IHSG berada di kisaran 6.843 hingga 6.745, sementara level penahan kenaikan (resistance) berada di rentang 7.117 hingga 7.239. Kondisi ini menunjukkan ruang penguatan masih terbatas di tengah dominasi tekanan pasar.
Sejalan dengan itu, riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas juga memperkirakan pelemahan terbatas dengan potensi pergerakan di kisaran 6.920 hingga 7.240. Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka apabila sentimen pasar membaik.
Dari sisi rekomendasi saham, analis menyarankan strategi selektif dengan memanfaatkan pelemahan harga. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Sementara itu, MNC Sekuritas merekomendasikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), serta PT Timah Tbk (TINS).
Secara teknikal, sejumlah saham berada pada fase koreksi sehingga strategi buy on weakness dinilai relevan untuk memanfaatkan potensi rebound jangka pendek. Namun, investor tetap diimbau mencermati batas risiko (stop loss) pada masing-masing saham.
Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari faktor domestik. Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut kombinasi risiko global turut memengaruhi pergerakan pasar.
“Menjelang libur panjang Lebaran, investor cenderung defensif karena pasar Indonesia tidak bisa langsung merespons perkembangan global selama periode libur,” ujar dia.
Ia menambahkan, pelaku pasar saat ini juga mulai memperhitungkan kondisi pascalebaran, termasuk potensi tekanan dari harga energi dan kebijakan fiskal.
“Jika harga energi tetap tinggi dan kebijakan BBM atau defisit fiskal harus disesuaikan, tekanan terhadap rupiah, obligasi, dan IHSG bisa berlanjut,” kata dia.
Sepanjang perdagangan sebelumnya, mayoritas sektor saham tercatat melemah, terutama sektor energi, properti, dan teknologi. Sementara itu, beberapa sektor seperti industri, kesehatan, dan keuangan masih mencatatkan penguatan terbatas.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diharapkan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan mempertimbangkan dinamika global serta momentum libur panjang yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. []
Penulis: Agustina Melani | Penyunting: Redaksi01
