KAI Optimalkan Lahan, Bangun Ribuan Apartemen di Manggarai
JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) memperluas strategi bisnis berbasis aset dengan mengembangkan hunian terintegrasi transportasi di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, melalui pembangunan 2.200 unit apartemen yang ditargetkan rampung pada awal 2027.
Langkah ini menjadi bagian dari pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) sekaligus upaya memaksimalkan pemanfaatan lahan milik perusahaan. Proyek tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 2,2 hektare dengan konsep hunian yang terhubung langsung dengan pusat transportasi publik.
Direktur Utama (Dirut) KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan pembangunan apartemen akan dimulai dalam waktu dekat dengan target penyerahan unit kepada konsumen pada awal 2027.
“Ini waktu pengerjaannya akan segera kita mulai, sehingga di awal tahun 2027 kita sudah bisa melakukan penyerahan kunci dari unit-unit tersebut,” kata Bobby, sebagaimana dilansir Money, Selasa, (17/03/2026).
Proyek hunian ini terdiri atas delapan menara (tower) yang terbagi dalam Blok G dan Blok F, masing-masing setinggi 12 lantai. Total unit yang disiapkan mencapai sekitar 2.200 unit dengan dua pilihan tipe, yakni tipe 45 dan tipe 52.
Harga yang ditawarkan berkisar mulai dari Rp500 juta untuk tipe 45, sementara tipe 52 diperkirakan mencapai Rp600 juta per unit. KAI menilai harga tersebut masih kompetitif untuk hunian yang berada di pusat konektivitas transportasi ibu kota.
Pemilihan kawasan Stasiun Manggarai sebagai lokasi proyek didasarkan pada perannya sebagai salah satu simpul transportasi tersibuk di Jakarta. Setiap hari, lebih dari 770 perjalanan kereta melintas di stasiun ini, termasuk 638 perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek serta 70 perjalanan kereta bandara menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Pada 2025, jumlah penumpang yang keluar masuk Stasiun Manggarai tercatat mencapai sekitar 10,53 juta orang, dengan lebih dari 200.000 penumpang melakukan transit setiap harinya.
Menurut Bobby, konsep hunian terintegrasi ini memberikan nilai tambah berupa efisiensi waktu dan biaya mobilitas bagi masyarakat perkotaan karena kedekatan dengan moda transportasi publik.
Selain di Jakarta, KAI juga menyiapkan pengembangan kawasan serupa di sejumlah kota lain, antara lain di sekitar Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat dengan 753 unit, kawasan Dr. Kariadi di Kota Semarang, Jawa Tengah sebanyak 1.042 unit, serta di Stasiun Surabaya Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur dengan 1.489 unit.
Melalui pengembangan berbasis TOD ini, KAI menargetkan terciptanya ekosistem perkotaan yang lebih terintegrasi antara hunian dan transportasi, sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan di wilayah perkotaan padat. []
Penulis: Rizky Mahendra | Penyunting: Redaksi01
