Kanselir Jerman Dorong Sikap Lebih Tegas terhadap Iran

JAKARTA — Pernyataan keras kembali disampaikan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait situasi politik di Iran. Di tengah meningkatnya tekanan internasional dan eskalasi ketegangan geopolitik, Merz menilai pemerintahan di Teheran berada pada fase kritis yang dapat menentukan kelangsungan rezim tersebut dalam waktu dekat. Penilaian itu disampaikan Merz saat menghadiri konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan pada Rabu (28/01/2026) waktu setempat.

Dalam keterangannya, Merz menyoroti cara pemerintah Iran menghadapi gelombang protes domestik yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Ia menilai penggunaan kekerasan terhadap warga sipil justru mempercepat delegitimasi kekuasaan. “Rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri: hari-harinya sudah dihitung,” kata Merz.

Ia menambahkan bahwa runtuhnya legitimasi politik membuat masa depan pemerintahan Iran semakin tidak pasti. “Mungkin hanya beberapa minggu lagi, tetapi rezim ini tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara,” ujar Merz.

Kanselir Jerman tersebut juga menyinggung tingginya jumlah korban jiwa akibat penindakan aparat keamanan selama aksi demonstrasi. Menurutnya, skala kekerasan yang terjadi menunjukkan ketidakmampuan pemerintah Iran merespons tuntutan rakyat secara damai. “Jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai ribuan selama demonstrasi baru-baru ini menunjukkan bahwa rezim mullah tampaknya hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui teror semata,” katanya.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa korban tewas dalam gelombang unjuk rasa antipemerintah telah mencapai ribuan orang. Salah satu organisasi pemantau HAM menyebut telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian sejak akhir Desember. Para aktivis memperingatkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena keterbatasan akses informasi, termasuk pemadaman internet yang masih terjadi di sejumlah wilayah Iran.

Selain menyoroti kondisi dalam negeri Iran, Merz juga menyampaikan dukungannya terhadap langkah diplomatik yang lebih tegas di tingkat regional dan internasional. Ia menyatakan mendukung upaya Italia yang mendorong Uni Eropa untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. “Saya sangat menyesal bahwa masih ada satu atau dua negara di Uni Eropa yang belum siap untuk mendukung penetapan tersebut,” kata Merz.

Pernyataan Merz muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran, menegaskan bahwa waktu semakin sempit bagi Iran untuk menghindari kemungkinan intervensi militer. Ancaman tersebut disampaikan setelah Iran menolak membuka kembali jalur negosiasi, meskipun tekanan internasional terus meningkat.

Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap berada di atas meja, terutama setelah apa yang ia sebut sebagai penindakan brutal terhadap para demonstran. Ia juga mengaitkan ketegangan saat ini dengan dampak konflik singkat namun intens yang terjadi pada Juni lalu antara Iran dan Israel, yang turut melibatkan Amerika Serikat.

“Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata -tanpa senjata nuklir- kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!” kata Trump.

Merujuk pada serangan Amerika terhadap target nuklir Iran sebelumnya, Trump menambahkan ancaman lanjutan. “Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi,” ujarnya.

Situasi ini menempatkan Iran dalam tekanan ganda, baik dari dalam negeri akibat protes rakyat maupun dari luar negeri melalui ancaman sanksi dan kemungkinan aksi militer. Para pengamat menilai dinamika tersebut berpotensi membawa perubahan besar dalam peta politik kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *