Kebakaran Rumah di Jakarta Barat, 105 Personel Turun Tangan
JAKARTA – Kebakaran yang terjadi di sebuah rumah tinggal di kawasan padat penduduk Jalan Jembatan Besi Raya XII, Tambora, Jakarta Barat, kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran di wilayah permukiman perkotaan. Insiden yang terjadi pada dini hari tersebut sempat memicu kekhawatiran warga sekitar mengingat lokasi berada di lingkungan dengan jarak bangunan yang saling berdekatan.
Peristiwa kebakaran itu terjadi pada Minggu (11/01/2026) sekitar pukul 04.19 WIB. Api dilaporkan mulai terlihat dari salah satu rumah warga dan dengan cepat membesar, sehingga membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah perambatan ke bangunan lain di sekitarnya. Menyikapi laporan tersebut, petugas pemadam kebakaran segera dikerahkan ke lokasi kejadian.
“Kebakaran rumah tinggal,” kata Command Center Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Barat saat dikonfirmasi pada Minggu pagi.
Sebanyak 21 unit mobil pemadam kebakaran beserta 105 personel dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut. Jumlah personel dan armada yang besar dinilai diperlukan karena lokasi kejadian berada di kawasan padat penduduk dengan akses jalan yang relatif sempit, sehingga membutuhkan strategi pemadaman yang terkoordinasi.
“Pengerahan 21 unit damkar dan 105 personel,” jelas pihak Command Center.
Proses pemadaman berlangsung selama kurang lebih satu jam. Petugas berjibaku memadamkan api dan memastikan tidak ada titik api tersisa yang berpotensi memicu kebakaran ulang. Api akhirnya berhasil dikendalikan dan dinyatakan padam sekitar pukul 05.19 WIB.
Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melanjutkan dengan proses pendinginan di lokasi kejadian. Tahap pendinginan dilakukan untuk memastikan bara api benar-benar padam dan tidak menyisakan panas yang dapat memicu kebakaran kembali. Hingga saat ini, area terdampak masih berada dalam pengawasan petugas guna menjamin keamanan warga sekitar.
Dalam insiden tersebut, tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Keberhasilan evakuasi dan pemadaman cepat dinilai menjadi faktor penting yang mencegah jatuhnya korban, mengingat waktu kejadian berlangsung saat sebagian besar warga masih tertidur.
Meski demikian, penyebab kebakaran hingga kini masih belum dapat dipastikan. Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui sumber api dan memastikan apakah kebakaran disebabkan oleh faktor kelistrikan, kelalaian, atau penyebab lainnya. Hasil penyelidikan tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Peristiwa kebakaran ini kembali menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bahaya kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat. Instalasi listrik yang aman, penggunaan peralatan rumah tangga sesuai standar, serta kesiapan alat pemadam api ringan (APAR) di lingkungan tempat tinggal dinilai dapat meminimalkan risiko kebakaran.
Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan terus meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah pencegahan kebakaran. Selain itu, kesiapan petugas dan sarana prasarana pemadam kebakaran menjadi faktor krusial dalam menekan dampak kebakaran di wilayah perkotaan. []
Siti Sholehah.
