Kebuntuan Diplomasi AS-Iran Dorong Harga Minyak dan Inflasi

JAKARTA – Kebuntuan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru di pasar global, dengan potensi lonjakan harga energi dan biaya pinjaman yang dapat menekan stabilitas ekonomi dunia.

Perundingan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi ini memperbesar risiko ketidakpastian ekonomi global, terutama karena jalur distribusi energi masih terganggu dan ketegangan geopolitik belum mereda.

Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS), JD Vance, menilai kegagalan terjadi karena Iran tidak bersedia menghentikan program nuklirnya. Sebaliknya, pihak Iran menilai tuntutan AS terlalu berlebihan. Vance pun meninggalkan Islamabad pada Minggu pagi, menegaskan bahwa batas negosiasi telah disampaikan secara jelas.

Dampak langsung dari kebuntuan tersebut mulai terasa di pasar global. Harga minyak dan gas kembali bergejolak, memicu kekhawatiran inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Sejumlah bank sentral bahkan memberi sinyal untuk meninjau ulang rencana penurunan suku bunga di tengah tekanan harga energi.

Penasihat Allianz, Mohamed El-Erian, menilai ketidakpastian menjadi faktor utama yang membayangi pasar keuangan saat ini.
“Seberapa besar aksi jual di pasar saham akan bergantung pada apakah investor masih melihat ada jalan yang masuk akal untuk diplomasi lanjutan,” kata El-Erian, sebagaimana dilansir The Guardian, Minggu (12/04/2026).

Di sisi lain, ketegangan militer di kawasan Timur Tengah masih berlangsung. Serangan di wilayah Lebanon selatan terus terjadi, sementara konflik yang dipicu sejak 28 Februari—ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Teheran—belum menunjukkan tanda mereda.

Meski sempat ada harapan setelah gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan dan pembukaan kembali Selat Hormuz, kondisi pasar tetap fluktuatif. Harga minyak dunia jenis Brent masih berada di kisaran 94,26 dolar AS per barel, lebih rendah dari puncaknya tetapi jauh di atas level sebelum konflik. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup di 95,63 dolar AS per barel.

Gangguan pasokan energi juga diperparah oleh serangan terhadap infrastruktur minyak di kawasan Teluk. Otoritas Arab Saudi menyebut kapasitas pemompaan sempat turun sekitar 700 ribu barel per hari, meski kini fasilitas utama telah dipulihkan.

Ekonom Societé Générale, Wei Yao, memperkirakan risiko jangka pendek bukan perang besar, melainkan konflik terbatas yang berkepanjangan dan berdampak pada distribusi energi global. Hal ini berpotensi memperlambat pemulihan pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas atau LNG).

Situasi ini diperkirakan menjadi perhatian utama dalam pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Dunia di Washington. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memberi sinyal bahwa skenario yang disiapkan mengarah pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global.

Dengan ketidakpastian yang terus meningkat, pelaku pasar dan pemerintah di berbagai negara dihadapkan pada tantangan untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan geopolitik yang belum mereda. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *