Kematian Mahasiswi di Ciawi Soroti Pentingnya Kesehatan Mental
BOGOR – Seorang mahasiswi berusia 23 tahun ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah kos di wilayah Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (19/01/2026) siang dan saat ini masih dalam penanganan kepolisian setempat untuk memastikan seluruh fakta di balik kejadian tersebut.
Kepolisian Sektor Ciawi menerima laporan setelah korban diketahui tidak dapat dihubungi sejak beberapa waktu sebelumnya. Kekhawatiran muncul ketika upaya komunikasi yang dilakukan oleh rekan-rekan korban tidak mendapatkan respons, sehingga salah seorang saksi meminta bantuan penghuni lain untuk melakukan pengecekan langsung ke kamar kos korban.
Setelah pemilik kos diberi tahu, pintu kamar akhirnya dibuka bersama-sama. Di dalam kamar, korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Aparat kepolisian kemudian segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan area sekitar.
Kapolsek Ciawi AKP Dede Lesmana membenarkan adanya peristiwa tersebut dan menyatakan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan menyeluruh. Proses ini meliputi pengumpulan keterangan saksi, pemeriksaan kondisi lokasi, serta penelusuran latar belakang korban guna memastikan penyebab kematian secara pasti.
“Untuk penyebabnya masih kami dalami. Namun berdasarkan keterangan awal dari lingkungan pertemanan kuliahnya, korban diketahui tengah menghadapi persoalan ekonomi,” ujar Dede.
Meski demikian, pihak kepolisian menegaskan bahwa dugaan tersebut belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama sebelum seluruh proses penyelidikan rampung. Polisi juga menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain di luar dugaan awal, namun tetap membuka kemungkinan lain berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda yang kerap menghadapi tekanan akademik, ekonomi, maupun sosial. Beban hidup yang tidak tertangani dengan baik dapat berdampak serius apabila tidak diimbangi dengan dukungan lingkungan dan akses bantuan profesional.
Pakar kesehatan mental menilai bahwa persoalan ekonomi sering kali menjadi pemicu stres berkepanjangan, terutama bagi mahasiswa perantau yang hidup jauh dari keluarga. Kondisi tersebut dapat diperparah apabila individu merasa sendirian, tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, atau ragu mencari pertolongan.
Pihak kepolisian bersama instansi terkait mengimbau masyarakat, khususnya pemilik rumah kos, lingkungan kampus, serta keluarga, agar lebih peka terhadap perubahan perilaku orang-orang di sekitarnya. Tanda-tanda seperti menarik diri, kesulitan berkomunikasi, atau tekanan emosional berkepanjangan perlu segera direspons dengan pendekatan yang empatik.
Kasus ini juga mendorong pentingnya penguatan layanan konseling di lingkungan pendidikan tinggi serta perluasan akses layanan kesehatan mental yang terjangkau. Upaya pencegahan dinilai jauh lebih penting agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Bagi masyarakat yang mengalami tekanan emosional berat, perasaan putus asa, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, sangat disarankan untuk segera mencari bantuan dari psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat. Dukungan profesional dan lingkungan yang peduli dapat menjadi langkah awal untuk keluar dari situasi sulit. []
Siti Sholehah.
