Khamenei Bandingkan Trump dengan Firaun, Singgung Akhir Kekuasaan
TEHRAN, IRAN - FEBRUARY 26: Iran's Supreme Leader Ayatollah Seyyed Ali Khamenei casts the first ballot in key elections for Parliament and the Assembly of Experts in Tehran, Iran, on February 26, 2016. Mr. Khamenei called on Iranians to vote en masse to "ruin the hopes of the enemies." The vote is essentially a referendum on the agenda of centrist President Hassan Rouhani, whose allies are trying to ease the grip of hardliners over many levers of government. (Photo by Scott Peterson/Getty Images)
JAKARTA – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei melontarkan pernyataan simbolik yang keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Melalui unggahan di media sosial, Khamenei menyamakan Trump dengan sosok firaun dalam sejarah kuno, sekaligus menyampaikan peringatan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas arogansi dan tekanan akan berakhir dengan keruntuhan.
Dalam unggahan tersebut, Khamenei menampilkan ilustrasi bernuansa sarkastik berupa sarkofagus bergaya firaun yang tampak runtuh, dengan wajah menyerupai Donald Trump. Visual itu disertai tulisan singkat dalam bahasa Persia yang berbunyi, “Seperti Firaun.”
Unggahan tersebut bukan sekadar kritik personal, melainkan bagian dari pesan politik yang lebih luas. Dalam keterangannya, Khamenei menyinggung pola sejarah tentang para penguasa yang dinilainya bersikap sewenang-wenang dan berambisi menguasai dunia. Ia menyebut sejumlah tokoh yang, menurut pandangannya, mengalami kejatuhan justru ketika berada di puncak kekuasaan.
Berbahasa Persia, Khamenei mengatakan bahwa penguasa arogan yang berusaha mendominasi dunia, seperti Firaun, Nimrod, Reza Khan, dan Mohammad Reza, digulingkan pada puncak kekuasaan mereka.
“Yang ini pun akan digulingkan,” tambahnya dalam keterangan unggahan itu.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington. Dalam beberapa waktu terakhir, Presiden Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, termasuk pernyataan yang dikaitkan dengan situasi protes dan kerusuhan yang terjadi di sejumlah wilayah di negara tersebut. Retorika keras dari kedua belah pihak mencerminkan memburuknya hubungan politik dan diplomatik yang telah berlangsung lama.
Kritik Khamenei juga sejalan dengan sikap pemerintah Iran yang menilai adanya campur tangan asing dalam dinamika domestik mereka. Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang berada di balik meningkatnya ketegangan internal.
“AS dan Israel mengatakan… ‘Kami mendukung kalian’. Orang-orang yang sama yang membunuh anak-anak dan bayi di negara kita menyuruh para perusuh ini untuk pergi dan menghancurkan, serta membakar,” kata Pezeshkian.
Dalam pernyataan yang ditujukan kepada generasi muda Iran, Pezeshkian mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang disebutnya sebagai perusuh dan kelompok teroris. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga stabilitas sosial dan mencegah anak-anak mereka terlibat dalam aksi kekerasan.
Dalam pernyataan untuk kaum muda Iran, Pezeshkian mengingatkan mereka untuk “tidak tertipu oleh para perusuh dan teroris ini”. Dia meminta keluarga-keluarga di Iran agar tidak membiarkan anak-anak mereka bergabung dengan “para perusuh dan teroris”.
Pernyataan Khamenei yang sarat simbolisme tersebut mempertegas sikap ideologis Iran dalam menghadapi tekanan eksternal. Dengan merujuk pada kisah-kisah sejarah, pemimpin tertinggi Iran berupaya membangun narasi bahwa kekuasaan yang didasarkan pada intimidasi dan dominasi tidak akan bertahan lama.
Di tengah eskalasi ketegangan geopolitik, pesan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Iran tidak hanya merespons ancaman melalui jalur diplomatik atau militer, tetapi juga melalui narasi moral dan sejarah yang ditujukan untuk konsumsi publik domestik maupun internasional. []
Siti Sholehah.
