Kinerja BNC Melonjak, Sinyal Perubahan Arah Industri Bank Digital
JAKARTA – Industri perbankan digital di Indonesia memasuki fase seleksi alam bisnis, di mana kemampuan menjaga profitabilitas, efisiensi, dan kualitas kredit menjadi penentu utama keberlanjutan usaha, seiring berakhirnya era ekspansi agresif yang sebelumnya didominasi strategi bakar uang.
Di tengah tekanan tersebut, PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatat lonjakan laba bersih signifikan sepanjang 2025. Direktur Utama (Dirut) BNC Eri Budiono mengatakan, kinerja tersebut merupakan hasil penerapan strategi yang lebih disiplin dalam menjaga pertumbuhan dan risiko. ”Kami memastikan pertumbuhan tetap berada dalam koridor kehati-hatian, dengan menjaga kualitas aset dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujar dia di Jakarta, sebagaimana dilansir Sumber Berita, Selasa (31/03/2026).
Secara kinerja, BNC membukukan laba bersih Rp565,69 miliar atau tumbuh 2.745 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp19,88 miliar. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan efisiensi yang tercermin pada rasio beban operasional terhadap pendapatan (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)) yang turun menjadi 84,18 persen dari sebelumnya 99,34 persen.
Selain itu, indikator profitabilitas juga menunjukkan penguatan, dengan Return on Assets (ROA) mencapai 3,11 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 15,13 persen. Dari sisi risiko, rasio kredit bermasalah Non Performing Loan (NPL) net tetap terjaga di level 0,89 persen, mencerminkan kualitas penyaluran kredit yang lebih selektif di tengah kekhawatiran meningkatnya risiko gagal bayar pada segmen digital.
Di sisi likuiditas, BNC mencatat kondisi yang longgar dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 51,21 persen dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 614,93 persen. Kondisi ini menunjukkan ruang ekspansi kredit masih terbuka, meskipun industri cenderung menahan agresivitas penyaluran pembiayaan guna menjaga stabilitas.
Penguatan fundamental juga terlihat dari total aset yang mencapai Rp18,97 triliun atau tumbuh 8,99 persen secara tahunan, serta dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp14,03 triliun yang didorong oleh pertumbuhan tabungan dan stabilitas deposito. Sementara itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio (CAR)) berada di level 49,07 persen dengan modal inti Rp4,03 triliun.
Respons positif pasar turut tercermin dari masuknya saham BNC (BBYB) ke dalam indeks Economic 30 sejak 2 Maret 2026, yang umumnya diisi oleh emiten dengan fundamental dan likuiditas yang dinilai membaik.
Ke depan, tantangan industri tidak hanya menjaga tren laba, tetapi juga menyeimbangkan ekspansi kredit dengan kualitas aset. BNC menyatakan akan memperkuat layanan digital serta mengembangkan produk Buy Now Pay Later (BNPL) guna memperluas basis bisnis. ”Fokus kami adalah pertumbuhan kredit berkualitas serta penguatan layanan digital,” tandas Eri.
Dengan perubahan lanskap industri yang semakin kompetitif, kemampuan bank digital dalam mengelola risiko, menjaga efisiensi, dan menciptakan model bisnis berkelanjutan akan menjadi faktor kunci untuk bertahan dalam jangka panjang.[]
Penulis: Rian Alfianto | Penyunting: Redaksi01
