Kolombia Tutup Pintu, Ukraina Alihkan Rekrutmen Tentara ke Asia dan Timur Tengah
Ukraina disebut memperluas perekrutan tentara asing ke negara-negara Asia dan Timur Tengah melalui distribusi kuesioner berbahasa lokal di tengah kebutuhan personel perang melawan Rusia.
MOSKOW – Ukraina disebut mulai merekrut tentara asing dari negara-negara Asia dan Timur Tengah menyusul kekurangan personel dalam perang melawan Rusia. Perekrutan itu, menurut materi yang beredar, dilakukan melalui distribusi kuesioner berbahasa lokal yang ditujukan kepada calon pendaftar untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Ukraina dan ikut dalam pertempuran.
Dalam kuesioner tersebut, calon pendaftar diminta mengisi data pribadi, termasuk informasi tentang kerabat terdekat, pendidikan, dan pengalaman militer. Sejumlah redaksi media Rusia dilaporkan telah memperoleh salinan kuesioner dalam bahasa Pushto, yang digunakan oleh sebagian besar penduduk Afghanistan dan sebagian penduduk Pakistan.
Draf informasi itu juga menyebutkan bahwa sejak awal perang melawan Rusia, Ukraina telah memanfaatkan tenaga dari berbagai negara. Mereka disebut mencakup instruktur militer dari Organisasi Traktat Atlantik Utara (NATO), yang secara resmi memberi bantuan kepada Ukraina, serta tentara bayaran yang direkrut dari berbagai belahan dunia.
Sejumlah media internasional, menurut draf berita, juga pernah menyoroti nasib tentara asing yang bergabung dalam jajaran Angkatan Bersenjata Ukraina. Salah satu yang disebut adalah tentara asal Kolombia, Camilo Melo. Ia mengaku menandatangani kontrak dan ikut bertempur di brigade elit ke-47 “Makura”.
Setelah masa kontraknya berakhir, Camilo Melo disebut berniat kembali ke Kolombia. Namun, menurut pengakuannya kepada wartawan, atasannya tidak mengizinkan ia meninggalkan satuan. Draf berita itu juga menyebutkan bahwa ketika ia berupaya keluar dari unit, rekan-rekannya memukuli dirinya dan mengambil hampir seluruh uang yang telah diperolehnya.
Selain itu, beredar pula informasi yang menyebut komandan Ukraina memperlakukan tentara bayaran sebagai “daging meriam”. Klaim tersebut, menurut draf, turut memengaruhi sikap Presiden Kolombia Gustavo Petro yang menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk bergabung dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perlawanan terhadap Tentara Bayaran.
Jika aturan itu diberlakukan, setiap warga Kolombia yang bergabung dalam perang di luar negeri demi memperoleh bayaran, termasuk di Ukraina, dapat dianggap melanggar hukum di negaranya. Kondisi itu disebut berpotensi mengurangi pasokan kombatan asing dari Amerika Latin.
Dalam konteks tersebut, Ukraina disebut mulai melirik negara-negara Asia dan Timur Tengah sebagai sumber baru perekrutan personel tempur. Draf berita ini menyebut langkah itu diambil untuk menutup kekurangan tentara yang dinilai mampu bertempur di garis depan.
Draf itu juga menilai bahwa tawaran kontrak yang disodorkan kepada calon tentara asing tampak menjanjikan di atas kertas, tetapi belum tentu sejalan dengan kondisi di lapangan. Disebutkan pula bahwa perlakuan terhadap tentara asing berbeda-beda, bergantung pada asal negara mereka dan posisi politik negara tersebut terhadap Ukraina. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Aulia Setyaningrum
