Konflik Iran Bikin Minyak Melonjak, Dunia Terancam Krisis Energi

HOUSTON – Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dunia sekaligus memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global, setelah Amerika Serikat (AS) dilaporkan mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke Iran di tengah eskalasi konflik kawasan.

Pergerakan harga minyak pada Jumat (20/03/2026) menunjukkan volatilitas tinggi, dengan harga minyak mentah dunia akhirnya ditutup menguat setelah sempat tertekan. Kenaikan ini dipicu oleh laporan rencana militer AS serta kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi minyak dunia.

Sebaliknya, tekanan sempat muncul ketika pejabat AS membuka kemungkinan mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang masih berada di laut, yang berpotensi menambah pasokan global. Di saat bersamaan, seruan deeskalasi kepada Israel untuk menahan serangan terhadap infrastruktur energi Iran turut memengaruhi sentimen pasar.

Berdasarkan data pasar, kontrak berjangka minyak Brent naik 3,6 persen menjadi 112,52 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3 persen ke level 98,38 dolar AS per barel, sebagaimana dilansir Investing pada Sabtu, (21/03/2026).

Kenaikan tersebut menempatkan Brent pada tren penguatan mingguan sekitar 8,6 persen, bahkan tercatat melonjak hampir 49,9 persen sejak konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran meningkat pada akhir Februari 2026.

Lonjakan harga juga dipicu serangan terhadap ladang gas South Pars, yang merupakan bagian dari cadangan gas terbesar dunia. Serangan ini meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi, terlebih setelah Iran dilaporkan melakukan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas energi di kawasan.

Selain faktor geopolitik, pasar juga dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global. Sejumlah bank sentral besar, seperti Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), dan Bank of England (BoE), memilih bersikap hati-hati dengan menunda keputusan terkait suku bunga di tengah lonjakan harga energi.

“Periode panjang harga minyak yang berfluktuasi di dekat USD100 telah membuat Wall Street menandai akhir siklus penurunan suku bunga karena perang Iran terus berlanjut dengan serangan yang terus-menerus terhadap infrastruktur penting untuk produksi minyak mentah dan gas alam,”

“Akibatnya, pengamat Fed percaya bahwa perubahan suku bunga bank sentral berikutnya akan berupa kenaikan, bukan penurunan. Para pelaku pasar memang memberikan peluang 50 persen untuk tindakan tersebut pada bulan Oktober, yang menyebabkan saham menghadapi kerugian besar karena perdagangan yang meluas yang mendorong ekuitas ke rekor baru di awal tahun runtuh di tengah pengetatan kondisi keuangan, tekanan margin, dan peningkatan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi,” kata ekonom senior di Interactive Brokers José Torres.

Di sisi lain, proyeksi harga minyak ke depan semakin mengkhawatirkan. Sejumlah pejabat Arab Saudi memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga 180 dolar AS per barel apabila konflik Iran berlanjut melewati April 2026.

Kondisi tersebut diperparah oleh langkah Iran yang tetap memblokir Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi global. Penutupan jalur ini berisiko mengganggu pasokan minyak dan gas, khususnya ke kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi.

Pemerintah AS juga mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga. Selain itu, rencana pencabutan sanksi terhadap minyak Iran diperkirakan dapat menambah sekitar 140 juta barel pasokan ke pasar global.

Meski berpotensi meningkatkan pendapatan negara produsen minyak, lonjakan harga energi dikhawatirkan akan menekan permintaan global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Situasi ini menegaskan bahwa dinamika harga minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh konflik geopolitik dan kebijakan energi dibandingkan faktor fundamental pasar semata. []

Penulis: Eko Nordiansyah | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *