Konflik Manusia dan Gajah Tewaskan Puluhan Warga di India
NEW DELHI – Konflik antara manusia dan satwa liar kembali menelan korban jiwa di India. Seekor gajah liar jantan dilaporkan mengamuk di kawasan hutan negara bagian Jharkhand, India timur, dan menyebabkan sedikitnya 20 orang meninggal dunia. Insiden ini menimbulkan kepanikan luas di wilayah pedesaan Distrik West Singhbhum dan memaksa ribuan warga mengubah aktivitas sehari-hari mereka.
Gajah liar tersebut diketahui bergerak secara agresif selama sekitar sembilan hari sejak awal Januari 2026. Dalam rentang waktu tersebut, hewan berukuran besar itu memasuki sejumlah permukiman warga, merusak fasilitas, serta menyerang siapa pun yang berada di jalur pergerakannya. Aparat kehutanan menyebut perilaku gajah tersebut sangat berbahaya dan sulit diprediksi.
“Kami sedang berusaha melacak dan menyelamatkan gajah liar ganas ini yang telah membunuh begitu banyak orang,” kata petugas kehutanan pemerintah Aditya Narayan kepada AFP.
Ia membenarkan bahwa jumlah korban jiwa akibat amukan gajah liar tersebut telah mencapai 20 orang. Para korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Di antara korban tewas, terdapat pula seorang pawang gajah profesional atau mahout yang berpengalaman menangani satwa liar.
Serangan gajah ini memperparah kekhawatiran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Sejumlah desa yang berada di jalur jelajah gajah dilaporkan terdampak langsung, dengan warga terpaksa meninggalkan ladang pertanian mereka demi keselamatan. Aktivitas bertani dan berkebun yang menjadi sumber penghidupan utama pun terhenti sementara.
Meski telah menimbulkan kerusakan dan korban jiwa, keberadaan gajah tersebut belum terdeteksi sejak Jumat (09/01/2026). Tim gabungan dari otoritas kehutanan dan aparat keamanan terus melakukan upaya pencarian secara intensif. Penelusuran dilakukan dengan menyisir kawasan hutan lebat, termasuk wilayah konservasi dan cagar alam nasional di negara bagian tetangga, Odisha.
Untuk mempercepat proses pencarian, tim di lapangan memanfaatkan teknologi drone guna memantau pergerakan satwa dari udara. Namun, kondisi hutan yang luas dan rapat menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelacakan.
Situasi ini memicu ketakutan berkepanjangan di kalangan warga. Lebih dari 20 desa dilaporkan terdampak secara langsung. Banyak penduduk memilih tidak keluar rumah pada malam hari untuk menghindari risiko serangan.
Beberapa warga bahkan memilih mengungsi sementara atau menunda aktivitas di luar ruangan hingga kondisi dinilai aman. Kepala desa terpilih setempat, Pratap Chachar, mengatakan aparat terus memberikan pendampingan kepada warga.
“Tim polisi, atau kendaraan petugas kehutanan, mengunjungi desa-desa pada malam hari untuk memberikan bantuan penting kepada penduduk desa,” kata Chachar.
Pemerintah daerah setempat menyatakan fokus utama saat ini adalah melindungi keselamatan warga sekaligus menangani gajah tersebut tanpa memicu dampak ekologis yang lebih besar. Konflik manusia dan satwa liar memang menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah India, terutama di kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat alami gajah.
Para ahli menilai, penyempitan kawasan hutan dan meningkatnya aktivitas manusia menjadi faktor utama meningkatnya konflik semacam ini. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini serta strategi mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali menelan korban jiwa di masa mendatang. []
Siti Sholehah.
