Konflik Mereda, Harga Minyak Global Langsung Terkoreksi

JAKARTA – Harga minyak dunia terkoreksi pada Kamis, 2 April 2026, dipicu meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik antara Amerika Serikat dan Iran, meski risiko gangguan pasokan global masih membayangi.

Penurunan harga ini terjadi setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memberi sinyal konflik dengan Iran tidak akan berlangsung lama, sehingga memicu respons cepat pelaku pasar energi.

Berdasarkan data perdagangan global, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juni turun sebesar USD2,91 atau sekitar 2,8 persen ke level USD101,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei melemah USD1,96 atau sekitar 1,9 persen menjadi USD99,42 per barel.

Kami siap keluar dari perang ini cukup cepat,” ujar Trump, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis, (02/04/2026).

Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa ketegangan geopolitik tidak akan berkepanjangan hingga pertengahan Mei, periode yang biasanya diiringi peningkatan permintaan energi di AS. Pada sesi sebelumnya, harga minyak bahkan sempat terkoreksi lebih dari USD3 per barel.

Namun demikian, kondisi di lapangan belum sepenuhnya stabil. Trump juga menyatakan bahwa Iran disebut telah mengajukan permintaan gencatan senjata, meski klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Ketidakselarasan informasi ini menambah ketidakpastian di pasar global.

Sejak akhir Februari 2026, Iran diketahui membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai respons atas konflik dengan AS dan Israel. Pembatasan ini berdampak langsung terhadap distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan jalur vital pasokan energi dunia.

Analis dari SEB menilai bahwa faktor politik domestik di AS turut memengaruhi dinamika konflik tersebut. “Risiko terhadap harga bensin AS, sentimen konsumen, dan pada akhirnya pemilu membuat konflik berkepanjangan menjadi mahal secara politik,” tulis analis tersebut.

Meski harga minyak mengalami penurunan, proses normalisasi pasokan diperkirakan tidak berlangsung cepat. Analis dari ING menyebut pemulihan distribusi akan berjalan bertahap karena adanya antrean kapal yang harus diselesaikan.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, juga mengingatkan bahwa potensi gangguan pasokan masih akan terjadi dalam waktu dekat, khususnya pada April 2026, terutama bagi pasar Eropa yang bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.

Dengan demikian, pasar energi global saat ini berada dalam kondisi tarik-menarik antara optimisme meredanya konflik dan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi. Penurunan harga minyak belum sepenuhnya mencerminkan stabilitas, melainkan respons jangka pendek terhadap sentimen geopolitik. []

Penulis: Moh. Alpin Pulungan | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *