Konflik Timur Tengah Dorong Harga Emas Tembus Level Tinggi
JAKARTA – Lonjakan harga emas global pada akhir pekan menjadi sinyal kuat meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko geopolitik dan tekanan ekonomi, dengan investor beralih ke aset lindung nilai di tengah ketidakpastian yang kian meluas.
Harga emas spot tercatat ditutup menguat 2,64 persen ke level 4.493,78 dolar AS per ons pada Jumat (27/03/2026). Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk kontrak Juni 2026 naik 2,62 persen ke posisi 4.524,3 dolar AS per ons.
Kenaikan signifikan ini dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda. Kondisi tersebut diperparah oleh pelemahan tajam pasar saham global yang mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Selain faktor geopolitik, ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok turut memperkuat daya tarik emas. Langkah Tiongkok yang meluncurkan dua investigasi terhadap praktik perdagangan AS, sebagai respons atas kebijakan serupa sebelumnya, memperbesar ketidakpastian global.
Analis dari Vibiz Research Center menilai, arah pergerakan emas ke depan masih sangat dipengaruhi dinamika eksternal, termasuk pergerakan dolar AS dan harga energi. Informasi tersebut sebagaimana dilansir Vibiznews, Senin, (30/03/2026).
“Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga emas akan menghadapi tantangan penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dengan kekhawatiran gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz yang dapat menaikkan harga minyak dan inflasi yang memicu The Fed akan menghentikan pemangkasan suku bunga Fed selanjutnya. Namun harga emas akan dapat naik jika eskalasi perang terus meningkat, dan memicu permintaan safe haven.”
Dalam proyeksinya, harga emas spot diperkirakan bergerak pada kisaran resistance 5.129–5.065 dolar AS per ons dan support 5.247–5.302 dolar AS per ons. Sementara emas berjangka AS berpotensi bergerak pada rentang resistance 4.606–4.687 dolar AS per ons dan support 4.422–4.319 dolar AS per ons.
Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan tetap fluktuatif. Jika konflik geopolitik terus meningkat, permintaan aset safe haven berpotensi menjaga tren kenaikan. Namun, tekanan dari penguatan dolar AS dan potensi kebijakan moneter ketat oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/Fed) dapat membatasi penguatan lebih lanjut. []
Penulis: Asido Situmorang | Penyunting: Redaksi01
