Konflik Timur Tengah Memanas, AS Jual 12.000 Bom ke Israel
JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan darurat ribuan selongsong bom kepada Israel di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Persetujuan ini diberikan ketika perang yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran semakin memanas.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melalui Biro Urusan Politik-Militer menyatakan bahwa penjualan tersebut mencakup 12.000 selongsong bom dengan berat masing-masing sekitar 1.000 pon atau setara 450 kilogram. Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 151,8 juta dolar AS.
Pemerintah Amerika Serikat menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari dukungan pertahanan terhadap Israel dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan yang muncul di kawasan.
“Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Israel untuk menghadapi ancaman saat ini dan di masa mendatang, memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan berfungsi sebagai pencegah terhadap ancaman regional,” kata biro tersebut dalam sebuah pernyataan.
Selain pengiriman amunisi, paket penjualan tersebut juga mencakup berbagai layanan pendukung, termasuk bantuan logistik serta dukungan teknis dari pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan kontraktor di sektor pertahanan.
Persetujuan penjualan senjata ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Iran yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah serangkaian serangan militer yang melibatkan beberapa negara di wilayah tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyampaikan bahwa sejumlah perusahaan pertahanan besar di negaranya telah sepakat untuk meningkatkan produksi senjata canggih. Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial pada Jumat (06/03/2026) waktu setempat.
Langkah peningkatan produksi senjata itu diumumkan sekitar sepekan setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut kemudian memicu respons militer dari Iran dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Pada umumnya, penjualan senjata dari Amerika Serikat ke negara lain harus melalui proses persetujuan dari Kongres. Namun dalam kasus ini, pemerintah menggunakan mekanisme pengecualian darurat yang memungkinkan penjualan dilakukan tanpa melalui proses peninjauan legislatif.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio diketahui telah mengeluarkan keputusan pengecualian tersebut. Pemerintah menyatakan bahwa langkah tersebut diambil karena situasi yang dinilai mendesak dan berkaitan dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
“Menteri Luar Negeri telah menetapkan dan memberikan justifikasi terperinci bahwa keadaan darurat telah terjadi yang mengharuskan penjualan segera barang-barang pertahanan dan jasa pertahanan di atas kepada Pemerintah Israel demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat,” kata Departemen Luar Negeri AS.
Keputusan tersebut memicu kritik dari sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat. Salah satunya disampaikan oleh Gregory Meeks, anggota Partai Demokrat yang juga tergabung dalam Komite Urusan Luar Negeri DPR.
Menurut Meeks, penggunaan wewenang darurat untuk menghindari proses peninjauan oleh Kongres menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi kebijakan pemerintah terkait konflik yang sedang berlangsung.
Ia menilai langkah tersebut justru menunjukkan adanya kontradiksi dalam kebijakan pemerintahan saat ini mengenai perang di Timur Tengah.
“Pemerintahan Trump telah berulang kali menegaskan bahwa mereka sepenuhnya siap untuk perang ini,” kata Meeks dalam sebuah pernyataan. “Terburu-buru untuk menggunakan wewenang darurat untuk menghindari Kongres, membuat kisah yang berbeda.”
Ia juga menilai bahwa kondisi darurat yang dijadikan alasan dalam keputusan tersebut sebenarnya muncul akibat kebijakan yang diambil oleh pemerintah sendiri.
“Ini adalah keadaan darurat yang diciptakan sendiri oleh pemerintahan Trump,” cetusnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, langkah Amerika Serikat untuk mempercepat pengiriman persenjataan kepada Israel diperkirakan akan semakin memengaruhi dinamika konflik di wilayah tersebut. []
Siti Sholehah.
