Kongres AS Gali Jaringan Epstein Lewat Pemeriksaan Maxwell

WASHINGTON DC — Kongres Amerika Serikat kembali menyorot skandal kejahatan seksual yang melibatkan mendiang Jeffrey Epstein. Kali ini, perhatian tertuju pada Ghislaine Maxwell, mantan rekan dekat Epstein yang telah divonis bersalah dan kini menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Maxwell dijadwalkan memberikan keterangan kepada Komite Pengawasan DPR AS dalam sesi tanya-jawab tertutup pada Senin (09/02/2026) waktu setempat.

Sesi tersebut akan digelar secara daring, dengan Maxwell mengikuti pemeriksaan melalui sambungan video dari dalam penjara tempatnya ditahan. Pemeriksaan ini menjadi bagian dari penyelidikan legislatif yang dilakukan DPR AS untuk mengurai jaringan relasi Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh, sekaligus menelusuri bagaimana aparat dan institusi negara menangani kasus kejahatan seksual yang melibatkan anak di bawah umur tersebut selama bertahun-tahun.

Maxwell, yang divonis atas perannya memperdagangkan anak-anak perempuan kepada Epstein, diperkirakan tidak akan banyak memberikan keterangan substantif. Tim kuasa hukumnya telah menyatakan bahwa tanpa adanya jaminan kekebalan hukum, Maxwell akan menggunakan hak konstitusionalnya untuk menolak menjawab pertanyaan yang berpotensi memberatkan dirinya sendiri.

Situasi ini berangkat dari permintaan pengacara Maxwell agar Kongres AS memberikan kekebalan hukum kepada kliennya sebelum bersaksi. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh para anggota parlemen. Penolakan ini membuat posisi Maxwell berada dalam dilema hukum, mengingat kesaksiannya berpotensi membuka kembali aspek-aspek yang belum sepenuhnya terungkap dalam kasus Epstein.

“Tanpa adanya kekebalan hukum itu, maka tim pengacara Maxwell mengatakan bahwa kliennya akan menggunakan hak Amandemen Kelima Konstitusi AS untuk menolak memberikan keterangan yang dapat memberatkan dirinya sendiri.”

Penyelidikan Kongres ini dilakukan di tengah sorotan publik yang kembali meningkat setelah jutaan halaman dokumen terkait Epstein dipublikasikan ke publik pada akhir Januari lalu. Dokumen-dokumen tersebut memunculkan kembali nama-nama tokoh politik, pebisnis, hingga figur publik yang diduga memiliki hubungan dengan Epstein, meskipun tidak semuanya berujung pada proses hukum.

Komite Pengawasan DPR AS, yang saat ini dikendalikan oleh Partai Republik, menilai penting untuk menggali lebih jauh peran jaringan Epstein serta mekanisme penanganan kasusnya di masa lalu. Para anggota komite ingin memastikan apakah ada upaya pembiaran, kelalaian, atau perlakuan istimewa terhadap Epstein sebelum kematiannya.

Epstein sendiri pernah dinyatakan bersalah pada 2008 atas dakwaan menyediakan anak di bawah umur untuk prostitusi. Namun, ia hanya menjalani hukuman yang relatif ringan dan dibebaskan pada 2009. Pada 2019, Epstein kembali ditahan atas dakwaan perdagangan seks anak, tetapi ditemukan tewas di sel tahanannya di New York sebelum sempat menjalani persidangan. Kematian Epstein dinyatakan sebagai bunuh diri, meski memicu spekulasi luas dan teori konspirasi hingga kini.

Sementara itu, salah satu anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ro Khanna, menyatakan tetap akan mengajukan pertanyaan meski Maxwell memilih bungkam. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup dugaan keterlibatan sejumlah rekan konspirator serta puluhan pria lain yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di properti milik Epstein.

Beberapa pertanyaan juga dikaitkan dengan hubungan Epstein dan Maxwell dengan tokoh-tokoh politik, termasuk Presiden AS Donald Trump. Meski Trump pernah dikenal memiliki hubungan sosial dengan Epstein, hingga kini ia belum dipanggil untuk bersaksi dan tidak pernah didakwa melakukan pelanggaran pidana terkait kasus tersebut.

Pemeriksaan terhadap Maxwell, meski digelar tertutup, dipandang sebagai langkah simbolis Kongres untuk menunjukkan komitmen mengungkap kebenaran di balik salah satu skandal seksual terbesar dalam sejarah modern AS, meskipun hasil konkret dari sesi tersebut masih diragukan. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *