Konsolidasi Besar-Besaran di Tubuh Pertamina
JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai melakukan evaluasi menyeluruh terhadap model bisnis sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) di sektor minyak dan gas bumi (migas). Langkah ini menjadi bagian dari strategi penataan ulang portofolio agar perusahaan pelat merah lebih fokus pada lini usaha inti dan meningkatkan efisiensi operasional.
Dua entitas besar yang masuk dalam kajian tersebut adalah PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Peninjauan ini diarahkan untuk memastikan masing-masing perusahaan memiliki batasan bisnis yang jelas serta tidak lagi menjalankan usaha yang dinilai di luar kompetensi utamanya.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan pembenahan dari sisi komersialisasi Pertamina. Ke depan, aktivitas yang tidak berkaitan langsung dengan minyak dan gas akan dipisahkan dari struktur perusahaan induk.
“Kita lakukan review, masalah komersialisasi Pertamina tidak akan punya lagi yang non related oil and gas, seluruhnya akan spin off Pertamina. Dia akan keluar dari Pertamina,” kata Dony dalam acara Economic Outlook 2026, Jakarta Pusat, Selasa (10/02/2026).
Kebijakan tersebut ditempuh setelah Danantara merampungkan penggabungan tiga entitas anak usaha Pertamina di sektor hilir. PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, dan PT Pertamina International Shipping kini telah dilebur menjadi satu Subholding Downstream.
Menurut Dony, konsolidasi ini bertujuan menekan inefisiensi yang selama ini muncul akibat struktur perusahaan yang terpisah-pisah.
“Kami baru selesai merger bulan Februari, merger di downstream. Kita konsolidasi Patra Niaga, PIS, dan Kilang karena ini kan satu perusahaan harusnya. Tak bisa dicacah yang menyebabkan inefficiency,” tegas Dony.
Restrukturisasi tidak hanya menyasar Pertamina sebagai induk usaha, tetapi juga PGN sebagai anak perusahaan yang bergerak di sektor gas bumi. Danantara menegaskan bahwa PGN tidak lagi diperkenankan terlibat dalam kegiatan hulu migas.
“PGN itu ke depan, mulai tahun ini sudah saya larang tidak main lagi di upstream. Mereka khusus main di midstream dan downstream. Tugas mereka adalah menyalurkan gas sampai ke rumah-rumah. Kita akan trial mulai di Batam,” ucapnya.
Fokus PGN diarahkan sepenuhnya pada distribusi dan pengembangan jaringan pipa gas bumi, termasuk perluasan layanan ke sektor rumah tangga. Uji coba perluasan jaringan tersebut akan dimulai di Batam sebagai proyek percontohan.
“Di Batam kita akan melakukan pipanisasi ke seluruh rumah gas. Karena kita maunya PGN itu menjadi perusahaan gas negara, yaitu untuk mendistribusikan gas. Dengan demikian nanti, dia tidak main lagi di upstream,” sambung Dony.
Langkah Danantara ini mencerminkan upaya mempertegas segmentasi bisnis di sektor energi nasional. Dengan pemisahan yang lebih jelas antara kegiatan hulu, tengah, dan hilir, pemerintah berharap kinerja BUMN migas menjadi lebih optimal, fokus, serta mampu meningkatkan daya saing di tengah dinamika industri energi global. []
Siti Sholehah.
