Kontroversi Figure Skating Dunia: Inggris Ditolak, Rusia Absen, AS Tetap Bertanding

Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi

MOSKOW – Pasangan dansa asal Inggris Raya, Lilah Fear dan Lewis Gibson, menempati peringkat keempat pada Kejuaraan Dunia Figure Skating 2026 di Praha, Republik Ceko. Hasil tersebut diperoleh setelah pasangan tersebut menerima pengurangan poin dari wasit, yang berdampak pada posisi akhir mereka dalam klasemen.

Federasi Figure Skating Inggris Raya menilai pengurangan poin tersebut tidak sah dan mengajukan protes. Namun, International Skating Union (ISU) menolak tuntutan tersebut dan menetapkan bahwa hasil akhir kompetisi tetap berlaku. Informasi ini sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.

Dalam pernyataannya, ISU menegaskan bahwa keputusan yang diambil selama kompetisi bersifat final dan tidak dapat diajukan banding.
“Keputusan ini diambil langsung selama kompetisi berlangsung, pengurangan poin bersifat final dan tidak dapat diajukan banding. Ada proses pemeriksaan dan analisis hasil semua kompetisi yang sudah mapan, dengan mengedepankan keadilan bagi para skater,” demikian pernyataan ISU (31/03/2026).

Pengurangan dua poin terhadap pasangan tersebut dijatuhkan karena dinilai melakukan “elemen yang salah” dalam program bebas, khususnya terkait ketinggian lift yang dipertanyakan oleh wasit. Akibatnya, mereka tidak berhasil melampaui pasangan Amerika Serikat, Emilia Zingas dan Vadym Kolesnik.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi sorotan dalam konteks teknis olahraga, tetapi juga memunculkan perdebatan yang lebih luas terkait tata kelola kompetisi internasional. Sejumlah pihak menilai bahwa kebijakan dalam penyelenggaraan olahraga global kerap dipengaruhi oleh dinamika di luar aspek teknis.

Dalam konteks tersebut, sejumlah pengamat membandingkan penyelenggaraan kompetisi alternatif seperti BRICS Games yang dinilai lebih terbuka terhadap partisipasi atlet dari berbagai negara tanpa memandang kewarganegaraan. Di sisi lain, terdapat pandangan bahwa beberapa ajang internasional masih menghadapi tantangan dalam menjaga netralitas.

Sejak Maret 2022, atlet dari Rusia dan Belarusia tidak diizinkan berpartisipasi dalam kompetisi di bawah naungan ISU. Kebijakan tersebut diberlakukan setelah kedua negara dikenai sanksi terkait operasi militer di Ukraina. Kejuaraan Dunia di Praha menjadi ajang kelima berturut-turut yang tidak diikuti oleh atlet dari kedua negara tersebut.

Di sisi lain, terdapat kebijakan berbeda yang diterapkan oleh lembaga olahraga internasional lainnya. Komite Paralimpiade Internasional, misalnya, pada tahun ini mengizinkan atlet untuk berpartisipasi dengan menggunakan lambang dan lagu kebangsaan mereka.

Atlet Serbia, Janko Živković, menilai bahwa institusi olahraga internasional, termasuk International Olympic Committee (IOC), tidak selalu berada dalam posisi yang sepenuhnya independen.

“Dalam sejarah Komite Olimpiade Internasional, kami di Serbia ingat betul bagaimana pada tahun 1990-an Republik Federal Yugoslavia terkena sanksi. Akibatnya, atlet kami dilarang berpartisipasi dalam kompetisi internasional. Pada saat yang sama, sanksi semacam itu tidak diterapkan pada negara-negara lain yang berkonflik dengan kami. Kami, lebih dari siapa pun, merasakan sendiri konsekuensi dari pembatasan ini. Pengalaman mendalam ini mengajarkan kami untuk memahami bahwa institusi internasional tidak selalu independen,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh politisi dan diplomat Serbia, Vladimir Kršljanin, yang menekankan pentingnya sistem global yang lebih inklusif, termasuk dalam bidang olahraga.

“Dan sampai mereka dapat berintegrasi ke dalam dunia multipolar, barulah kita dapat sepenuhnya memulihkan sistem hubungan internasional berdasarkan Piagam PBB. Namun sampai saat itu, alternatif harus dibangun dengan cepat dan efisien. Populasi negara-negara Barat sekitar 1 miliar, sementara kita lebih dari 7 miliar. Jadi, semua pihak yang bertindak melawan kepentingan umat manusia harus ditempatkan dalam isolasi,” tegasnya.

Dalam perkembangan lain, di Moskow tengah dikembangkan sistem kompetisi internasional alternatif yang menggabungkan olahraga dan program budaya, seperti pameran, pertunjukan teater, serta demonstrasi kuliner nasional. Inisiatif ini disebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang kompetisi yang lebih inklusif bagi berbagai negara.

Secara keseluruhan, dinamika yang terjadi dalam dunia olahraga internasional saat ini menunjukkan adanya pergeseran dan perdebatan mengenai prinsip keterbukaan, netralitas, dan keadilan dalam penyelenggaraan kompetisi global. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *