Kopdes Merah Putih Jadi Penentu Masa Depan Ekonomi Desa
JAKARTA– Transparansi dan profesionalisme menjadi penentu utama keberhasilan program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih dalam mendorong peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes), di tengah percepatan pembangunan yang dilakukan pemerintah untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Pemerintah melalui Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih bukan sekadar program pendukung, melainkan instrumen strategis nasional untuk memperkuat ekonomi lokal dari tingkat desa. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyatakan program ini harus disukseskan bersama karena memiliki peran penting dalam menjaga perputaran ekonomi tetap berada di desa.
Menurut Yandri Susanto, skema Kopdes Merah Putih telah dirancang agar memberi manfaat langsung bagi desa. “Minimal 20 persen dari keuntungan Kopdes akan masuk ke Pendapatan Asli Desa,” sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Permendes PDT) Nomor 10 Tahun 2025. Selain itu, sisa hasil usaha akan dikembalikan kepada masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah pada desil 1 hingga desil 5. Hal ini menegaskan bahwa koperasi diarahkan sebagai sarana distribusi ekonomi yang lebih merata.
Dari sisi operasional, Kopdes Merah Putih mengusung model usaha berbasis sektor ritel kebutuhan pokok serta penyerapan hasil produksi desa. Skema ini dinilai mampu mengintegrasikan pelaku usaha mikro, petani, dan konsumen dalam satu rantai ekonomi yang lebih terorganisir. Dengan pengelolaan yang tepat, koperasi diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi desa yang selama ini berjalan terpisah.
Sementara itu, Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menekankan pentingnya percepatan pembangunan agar koperasi segera mencapai skala ekonomi yang optimal. Ia menyebut progres signifikan dapat terlihat pada September mendatang apabila pengerjaan di berbagai lokasi dapat dipercepat. Pernyataan tersebut menyoroti bahwa tantangan utama program ini terletak pada eksekusi dan keberlanjutan operasional.
Ferry Juliantono juga menyoroti pentingnya penguatan sistem distribusi, operasional, serta integrasi logistik pangan sebelum seluruh unit usaha berjalan penuh. Pemerintah saat ini masih mematangkan ekosistem, termasuk standar layanan pada fasilitas seperti gerai obat dan klinik, agar koperasi mampu beroperasi secara profesional dan terpercaya.
Dari sisi akademis, pengamat sosial dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh Firdaus Mirza menilai koperasi desa dapat menghidupkan kembali tradisi ekonomi kolektif masyarakat. Ia menyebut nilai gotong royong dan solidaritas sosial sebagai modal utama yang dapat dioptimalkan melalui koperasi untuk menciptakan aktivitas ekonomi produktif.
Firdaus Mirza menambahkan bahwa keberhasilan koperasi sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Kepercayaan dan rasa memiliki dinilai menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan program. Tanpa keterlibatan aktif warga, koperasi berisiko kehilangan legitimasi dan gagal mencapai tujuan.
Dalam satu tahun terakhir, pemerintah dinilai telah mempercepat pembangunan ekonomi desa melalui berbagai program, termasuk peningkatan infrastruktur, akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, serta penguatan pemberdayaan masyarakat. Upaya ini menunjukkan komitmen untuk menjadikan desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ke depan, Kopdes Merah Putih diharapkan tidak hanya menjadi proyek pembangunan, tetapi benar-benar berfungsi sebagai mesin ekonomi desa yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang transparan dan partisipatif, koperasi ini berpotensi memperkuat kemandirian desa serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata. []
Penulis: Yusuf Maulana | Penyunting: Redaksi01
