Korsel dan Jepang Pantau Peluncuran Rudal Terbaru Korea Utara

JAKARTA — Ketegangan keamanan di kawasan Asia Timur kembali meningkat setelah Korea Utara dilaporkan melakukan peluncuran rudal balistik ke perairan timur Semenanjung Korea. Aksi tersebut segera memicu respons dari Korea Selatan dan Jepang yang menyatakan tengah melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas militer Pyongyang.

Militer Korea Selatan menyampaikan bahwa rudal balistik yang ditembakkan Korea Utara terdeteksi meluncur ke arah Laut Timur, wilayah perairan yang juga dikenal sebagai Laut Jepang. Peluncuran tersebut menambah daftar panjang uji coba senjata Korea Utara yang terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

“Korea Utara telah meluncurkan rudal balistik tak dikenal ke arah Laut Timur,” kata militer Korea Selatan, seperti dilansir AFP, Minggu (04/01/2025).

Informasi serupa juga disampaikan oleh otoritas pertahanan Jepang. Kementerian Pertahanan Jepang menyebut pihaknya mendeteksi kemungkinan peluncuran rudal balistik yang mendarat di lokasi yang belum dapat dipastikan. Rudal tersebut terpantau jatuh sekitar pukul 08.08 waktu setempat. Hingga kini, belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban akibat peluncuran tersebut.

Peluncuran terbaru ini menjadi uji coba rudal balistik pertama Korea Utara sejak November lalu. Saat itu, Pyongyang merespons langkah Amerika Serikat yang menyetujui rencana Korea Selatan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Korea Utara menilai langkah tersebut sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara secara konsisten meningkatkan intensitas dan variasi uji coba rudalnya. Para analis militer menilai langkah ini bukan sekadar demonstrasi kekuatan, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan akurasi serangan, menguji sistem senjata baru, serta memperkuat posisi tawar Pyongyang dalam dinamika geopolitik regional dan global.

Selain itu, pengembangan rudal balistik juga dinilai berkaitan dengan potensi kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia. Sejumlah pengamat menyebut Pyongyang kemungkinan tengah menguji teknologi senjata sebelum diekspor ke negara lain, seiring dengan meningkatnya hubungan strategis antara kedua negara tersebut.

Situasi ini juga terjadi menjelang agenda politik penting di Korea Utara. Dalam beberapa pekan mendatang, Pyongyang dijadwalkan menggelar kongres besar partai penguasa, yang merupakan pertemuan pertama dalam lima tahun terakhir. Kongres tersebut diperkirakan akan membahas arah kebijakan ekonomi, pertahanan, dan militer negara secara menyeluruh.

Menjelang pertemuan itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan telah menginstruksikan percepatan modernisasi industri persenjataan. Kim memerintahkan perluasan kapasitas produksi rudal dan pembangunan fasilitas manufaktur baru guna memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

Pada Minggu (28/12/2025), media pemerintah Korea Utara melaporkan bahwa Kim Jong Un melakukan kunjungan ke fasilitas produksi senjata berpemandu taktis. Dalam kunjungan tersebut, Kim menekankan pentingnya peningkatan produksi dalam skala besar.

Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan bahwa Kim memerintahkan agar kapasitas produksi yang ada diperluas hingga 250% dari tingkat saat ini. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan Pyongyang dalam memperkuat kemampuan militernya di tengah tekanan internasional dan sanksi ekonomi yang masih berlaku.

Peluncuran rudal balistik terbaru ini diperkirakan akan kembali menjadi perhatian komunitas internasional, terutama Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang, yang selama ini menilai program senjata Korea Utara sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan Asia Timur. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *