Kunjungan Menlu Israel ke Somaliland Picu Ketegangan Diplomatik
JAKARTA – Kunjungan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar ke Somaliland menjadi penanda kuat arah baru kebijakan luar negeri Israel di kawasan Afrika Timur. Lawatan tersebut dilakukan tak lama setelah Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka, sebuah keputusan yang memicu reaksi keras dari Somalia dan sejumlah pihak internasional.
Dalam kunjungannya, Gideon Saar menegaskan komitmen Israel untuk memperdalam hubungan bilateral dengan Somaliland, wilayah yang telah mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia lebih dari tiga dekade lalu namun belum mendapat pengakuan luas dari komunitas internasional. Langkah Israel menjadikannya negara pertama di dunia yang secara terbuka mengakui kedaulatan Somaliland.
Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi menyambut kunjungan Saar dengan penuh antusias. Ia menyebut kunjungan tersebut sebagai momen bersejarah bagi negaranya dan menilai pengakuan Israel sebagai keputusan berani yang membuka peluang kerja sama strategis di masa depan.
Di sisi lain, pemerintah Somalia merespons keras langkah Israel tersebut. Somalia menegaskan bahwa Somaliland masih merupakan bagian dari wilayah kedaulatannya dan mengecam kunjungan Saar sebagai bentuk pelanggaran terhadap prinsip keutuhan wilayah negara.
Somalia bahkan menyebut langkah tersebut sebagai “campur tangan yang tidak dapat diterima”, menandakan meningkatnya ketegangan diplomatik antara Mogadishu dan Tel Aviv.
Dalam pernyataan publiknya melalui akun media sosial resminya, Gideon Saar mengungkapkan bahwa pertemuannya dengan Presiden Abdullahi berfokus pada penguatan hubungan kedua pihak.
“Keseluruhan hubungan kita,” kata Saar.
Saar juga menanggapi berbagai kecaman internasional yang muncul akibat pengakuan Israel terhadap Somaliland. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hak kedaulatan penuh Israel dan tidak ditujukan untuk menyerang atau merugikan pihak mana pun.
“Hanya Israel yang akan menentukan sendiri siapa yang diakuinya,” ujar Saar.
Sementara itu, dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh kantornya, Presiden Somaliland Abdullahi menyatakan bahwa negaranya melihat Israel sebagai mitra strategis. Ia menegaskan kesiapan Somaliland untuk bekerja sama dengan Israel dalam berbagai bidang yang dinilai memiliki kepentingan bersama, terutama dalam konteks stabilitas kawasan dan kepentingan strategis jangka panjang.
Lebih lanjut, Saar menyampaikan bahwa Presiden Abdullahi telah menerima undangan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melakukan kunjungan balasan ke Israel. Namun demikian, hingga saat ini kantor kepresidenan Somaliland belum memberikan konfirmasi resmi terkait undangan tersebut.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland yang diumumkan pada bulan lalu memang mengejutkan banyak pihak. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Somaliland merupakan negara yang merdeka dan berdaulat, sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan posisi mayoritas negara dan organisasi internasional.
Langkah ini memicu kecaman luas dan bahkan mendorong dilaksanakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sejumlah negara besar serta organisasi regional menyuarakan kritik terhadap Israel, menilai pengakuan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Tanduk Afrika. Uni Eropa pun menegaskan bahwa kedaulatan dan keutuhan wilayah Somalia harus tetap dihormati.
Meski menuai kontroversi, Israel tampak konsisten dengan langkah diplomatiknya. Kunjungan Saar ke Somaliland menjadi sinyal bahwa pengakuan tersebut tidak bersifat simbolik semata, melainkan diikuti dengan upaya konkret untuk membangun hubungan politik dan strategis yang lebih erat di kawasan yang selama ini sarat konflik geopolitik. []
Siti Sholehah.
