Kunjungan Raja Denmark ke Greenland Sarat Pesan Politik
JAKARTA – Raja Denmark Frederik X dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Greenland pada pertengahan Februari mendatang. Agenda tersebut menjadi sorotan internasional karena berlangsung di tengah menguatnya wacana pencaplokan wilayah Greenland oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang kembali memicu perdebatan geopolitik di kawasan Arktik.
Kunjungan ini dipandang sebagai sinyal kuat keterlibatan kerajaan Denmark terhadap wilayah otonomnya di tengah meningkatnya ketegangan politik global. Istana Kerajaan Denmark mengonfirmasi rencana perjalanan tersebut dan menyebut kunjungan itu akan dilakukan bulan depan.
“Raja Denmark akan mengunjungi Greenland pada pertengahan Februari,” demikian pernyataan istana kerajaan dilansir AFP, Kamis (29/01/2026).
Greenland merupakan wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, meskipun memiliki pemerintahan sendiri dan kewenangan luas dalam urusan domestik. Namun, kebijakan luar negeri dan pertahanan masih berada di bawah kendali Kopenhagen. Posisi strategis Greenland di kawasan Arktik menjadikannya sasaran kepentingan sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden AS Donald Trump kembali menyampaikan pernyataan yang memicu kontroversi terkait Greenland. Trump mengklaim telah mencapai suatu kerangka kesepakatan jangka panjang yang menurutnya memuaskan, meskipun tidak menjelaskan secara rinci bentuk maupun ruang lingkup kesepakatan tersebut.
Di tengah dinamika tersebut, Raja Frederik menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi psikologis dan kekhawatiran masyarakat Greenland. Pernyataan itu disampaikan Raja Frederik saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Lithuania.
“Kami sangat prihatin terhadap rakyat Greenland dan kami sangat terpengaruh oleh apa yang telah terjadi di Greenland dalam beberapa minggu terakhir,” kata Raja Frederik kepada wartawan selama kunjungannya ke Lithuania.
Ia menegaskan bahwa isu Greenland tidak hanya berdampak secara politik, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan sosial masyarakat setempat yang merasa masa depan wilayahnya menjadi perbincangan kekuatan asing.
“Kami dapat merasakan dari media bahwa rakyat Greenland sangat prihatin… jelas bahwa ini menyangkut kami berdua,” tambahnya, merujuk pada istrinya, Ratu Mary.
Pernyataan Raja Frederik ini dinilai sebagai bentuk empati sekaligus dukungan moral kepada warga Greenland, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin vokal menyuarakan aspirasi mereka terkait kedaulatan, identitas, dan masa depan wilayah tersebut.
Sebelumnya, Trump menyebut telah menyusun kerangka kesepakatan yang berkaitan dengan Greenland dan bahkan mengaitkannya dengan kepentingan strategis Amerika Serikat di seluruh kawasan Arktik. Namun, Trump tidak memberikan kejelasan apakah kesepakatan itu mencakup kendali langsung AS atas pulau tersebut.
“Kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh Wilayah Arktik,” kata Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya.
Pernyataan itu muncul setelah Trump bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Perubahan sikap Trump yang tiba-tiba tersebut memicu spekulasi luas mengenai arah kebijakan luar negeri AS terhadap kawasan Arktik yang kaya sumber daya alam dan memiliki nilai strategis tinggi.
Kunjungan Raja Frederik ke Greenland dinilai sebagai langkah simbolik untuk menegaskan hubungan historis dan konstitusional antara Denmark dan wilayah otonom tersebut. Di saat yang sama, kunjungan ini juga dipandang sebagai upaya menenangkan kekhawatiran publik Greenland di tengah meningkatnya perhatian global terhadap masa depan pulau terbesar di dunia itu. []
Siti Sholehah.
