Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.078, Terjepit Sentimen Global dan Fiskal
JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian meningkat pada Selasa (07/04/2026) seiring kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari lonjakan harga minyak dunia hingga pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini mendorong rupiah kembali melemah di pasar spot.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.08 WIB, kurs rupiah tercatat turun 43 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.078 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menguat 0,14 persen ke posisi 100,12, menandakan tekanan eksternal yang semakin dominan terhadap mata uang negara berkembang.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya. Pada perdagangan Senin (07/04/2026), rupiah ditutup melemah 55 poin ke posisi Rp17.035 per dolar AS, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. “Investor fokus pada tenggat waktu Presiden Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz,” katanya, sebagaimana dilansir Investor, Selasa (07/04/2026).
Ia menambahkan, tekanan eksternal juga berasal dari kenaikan harga energi global yang memicu kekhawatiran inflasi. “Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat tetap diblokir,” ujarnya.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah turut dipengaruhi kondisi fiskal. Defisit APBN pada Maret 2026 tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB.
Kombinasi tekanan global dan domestik tersebut dinilai membuat ruang penguatan rupiah semakin terbatas dalam jangka pendek. Pelaku pasar pun cenderung menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi serta perkembangan geopolitik sebelum mengambil keputusan investasi lebih lanjut. []
Penulis: Indah Handayani | Penyunting: Redaksi01
