Lavrov Tegaskan Moskow Tak Berniat Rebut Greenland
MOSKOW – Pemerintah Rusia menegaskan posisinya terkait isu Greenland yang kembali mencuat dalam wacana geopolitik global. Moskow secara terbuka membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyiratkan adanya potensi ancaman dari Rusia maupun China terhadap wilayah otonom Denmark tersebut. Rusia menilai narasi tersebut tidak berdasar dan telah diketahui dengan jelas oleh Washington.
Pernyataan tegas itu disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam konferensi pers di Moskow pada Selasa (20/01/2026) waktu setempat. Konferensi pers tersebut digelar untuk merangkum aktivitas diplomatik Rusia sepanjang tahun 2025. Dalam kesempatan itu, Lavrov menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki kepentingan untuk menguasai Greenland.
“Kami tidak memiliki rencana untuk merebut Greenland. Itu bukan masalah kami. Kami pikir Washington mengetahui betul tentang tidak adanya niat seperti itu, baik di Rusia maupun China,” tegas Lavrov dalam pernyataannya, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (21/01/2026).
Lavrov juga menepis berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan pengamat internasional mengenai kemungkinan kerja sama strategis atau perjanjian bantuan timbal balik antara Rusia dengan Greenland maupun Islandia. Menurutnya, tidak ada kondisi politik maupun keamanan yang mendasari terbentuknya pengaturan semacam itu.
Dia menekankan bahwa Rusia hanya bersikap sebagai pengamat terhadap dinamika yang berkembang di kawasan tersebut. Moskow, kata Lavrov, tidak terlibat langsung dan tidak menimbulkan ancaman apa pun terhadap Greenland, yang belakangan menjadi sorotan karena letaknya yang strategis di kawasan Arktik serta kekayaan sumber daya mineralnya.
Isu Greenland kembali mencuat setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengakuisisi wilayah tersebut. Trump beralasan bahwa Greenland memiliki nilai strategis tinggi bagi keamanan nasional Amerika Serikat, terutama dalam konteks persaingan global dengan Rusia dan China. Namun, wacana tersebut menuai penolakan luas, termasuk dari Denmark dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Dalam pernyataannya, Lavrov turut menanggapi perbandingan yang kerap digunakan dalam narasi Barat terkait Greenland dan Krimea. Trump sebelumnya menyamakan pentingnya Greenland bagi keamanan AS dengan posisi Krimea bagi Rusia. Lavrov menilai perbandingan tersebut digunakan untuk membenarkan kekhawatiran yang tidak memiliki dasar kuat.
“Ketika mereka membenarkan apa yang terjadi seputar Greenland dengan mengatakan bahwa jika tidak, Rusia atau China akan merebutnya, tidak ada bukti utuk hal tersebut. Dan di Barat, para ekonom dan ilmuwan politik sudah membantah mereka,” ujar Lavrov.
Menurut Lavrov, tudingan bahwa Rusia berambisi menguasai Greenland merupakan bagian dari narasi politik yang dibangun untuk memperkuat kepentingan tertentu. Ia menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki hubungan langsung dengan isu tersebut dan tidak berencana mencampuri urusan Greenland.
“Kami tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Kami akan memantau situasinya,” imbuhnya.
Pernyataan Rusia ini menegaskan posisi Moskow yang berusaha meredam spekulasi geopolitik di tengah meningkatnya ketegangan global. Dengan menolak tuduhan ambisi teritorial, Rusia ingin menegaskan bahwa isu Greenland lebih mencerminkan dinamika internal dan kepentingan strategis Amerika Serikat sendiri, bukan akibat ancaman nyata dari pihak luar. []
Siti Sholehah.
