Loa Kulu Punya Tempe Daun Legendaris, 1.500 Biji Diproduksi Setiap Hari

KUTAI KARTANEGARA — Berkunjung ke Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), belum lengkap rasanya tanpa mencicipi atau membawa pulang tempe bungkus daun sebagai oleh-oleh. Olahan kedelai tradisional ini telah lama menjadi ciri khas Loa Kulu dan hingga kini tetap bertahan di tengah tantangan zaman.

Salah satu pelaku usaha tempe daun di wilayah tersebut adalah Nordiani, warga Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu. Ia telah menekuni usaha pengolahan tempe daun sejak 13 tahun lalu dan masih aktif memproduksi tempe setiap hari hingga sekarang.

“Awalnya produksi cuma 5 kilogram kedelai per hari, lalu naik jadi 10 kilo, 20 kilo, bahkan sebelum pandemi Covid-19 pernah sampai 30 kilo,” ujar Nordiani saat diwawancarai pada Sabtu (31/01/2026).

Namun, pandemi Covid-19 membawa dampak signifikan terhadap usahanya. Saat ini, produksi tempe daun Nordiani berada di kisaran 15 hingga 20 kilogram kedelai per hari, dengan total hasil sekitar 1.500 biji tempe daun setiap harinya.

Tempe daun produksi Nordiani dipasarkan di sekitar Pasar Loa Kulu serta kepada pelanggan tetap di lingkungan sekitar rumahnya. Selain itu, tempe daun ini juga kerap dipesan untuk dibawa ke luar daerah, seperti Samarinda dan Balikpapan, sebagai oleh-oleh khas Loa Kulu.

“Biasanya ada yang pesan untuk dibawa ke Samarinda atau Balikpapan. Mereka suka karena aroma dan rasanya beda, lebih wangi karena dibungkus daun,” kata Nordiani.

Untuk harga, tempe daun dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp500 per biji, sehingga tetap diminati oleh berbagai kalangan masyarakat.

Meski demikian, Nordiani mengaku tidak lepas dari berbagai kendala dalam proses produksi. Salah satu kendala utama adalah ketersediaan daun pisang sebagai pembungkus tempe, terutama saat musim hujan.

“Kalau musim hujan, susah dapat daun. Tidak ada yang mau ambilkan, jadi saya beli ke orang yang punya kebun pisang,” jelasnya.

Selain itu, faktor cuaca juga memengaruhi daya tahan tempe. Pada musim hujan, tempe cenderung tidak bertahan lama dan hanya bisa dikonsumsi selama dua hingga tiga hari. Jika tidak habis terjual, tempe berisiko busuk dan merugikan produsen.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, usaha tempe daun khas Loa Kulu tetap bertahan berkat konsistensi produksi dan loyalitas pelanggan. Keberadaan usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi pelaku UMKM, tetapi juga menjaga warisan kuliner tradisional yang menjadi identitas Kecamatan Loa Kulu. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *