Lonjakan Harga Plastik Bikin Lapak Sepi dan Omzet Turun

JAKARTA – Lonjakan harga kantong plastik dan gelas plastik hingga 60–70 persen di Pasar Tradisional Curug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, memicu tekanan baru bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan tersebut untuk operasional harian.

Kenaikan harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat aktivitas jual beli di lapak plastik cenderung lesu. Sejumlah pedagang mengaku kehilangan pembeli akibat daya beli masyarakat yang menurun seiring harga yang melonjak.

Salah satu pedagang plastik, Arwanto, mengungkapkan hampir seluruh jenis produk mengalami kenaikan signifikan. “Semua jenis plastik naik harganya. Contohnya plastik kiloan yang biasanya untuk kopi atau es, itu awalnya saya jual harga Rp 7.000, sekarang Rp 12.000,” kata Arwanto sebagaimana dilansir Investor, Senin (06/04/2026).

Ia menjelaskan, harga kantong plastik yang sebelumnya sekitar Rp10.000 kini naik menjadi Rp16.000. Sementara kantong plastik merah yang semula Rp19.000 meningkat hingga Rp26.000. Kondisi ini, menurutnya, berdampak langsung pada penurunan omzet penjualan.

“Soalnya naiknya tinggi, konsumen saya juga kaget, yang tadinya mau beli, akhirnya enggak jadi beli,” tuturnya.

Dampak kenaikan harga juga dirasakan pelaku usaha mikro seperti pedagang kopi keliling yang sangat bergantung pada plastik sebagai kemasan. Keterbatasan modal membuat mereka harus menyesuaikan jumlah pembelian bahan baku agar tetap bisa bertahan.

Seorang pedagang kopi keliling, Soma, mengaku kesulitan menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual. “Dulu saya beli plastik banyak, otomatis karena ada kenaikan, saya belinya sedikit, sesuai dengan modal kita,” kata Soma.

Ia menambahkan, strategi yang diambil adalah menahan kenaikan harga jual kopi dengan mengurangi pembelian plastik, meski berdampak pada margin keuntungan. “Harga kopi saya usahakan enggak naik, cuma beli plastiknya aja saya kurangi,” tuturnya.

Soma berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga plastik agar tidak semakin membebani pelaku usaha kecil. “Semua plastik naik, tapi kalau harga kopi saya naikan juga, pelanggan saya nanti pada enggak mau beli,” jelasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga bahan pendukung seperti plastik turut memengaruhi rantai ekonomi sektor informal, sehingga diperlukan intervensi kebijakan guna menjaga keberlangsungan usaha mikro di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat. []

Penulis: Wawan Kurniawan | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *