Macron Tegaskan Kedaulatan Denmark atas Greenland
JAKARTA – Isu ambisi Amerika Serikat terhadap Greenland kembali mencuat dan memicu respons dari sejumlah pemimpin dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai wacana penguasaan wilayah tersebut tidak realistis dan menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara lain, khususnya Denmark yang selama ini menaungi Greenland.
Dalam pernyataannya kepada media Prancis France 2, Macron menyampaikan keyakinannya bahwa Amerika Serikat tidak akan bertindak melampaui batas hukum internasional dengan mencaplok wilayah yang berada di bawah kedaulatan negara lain. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap kawasan Arktik yang memiliki nilai strategis dan ekonomi.
“Saya tidak dapat membayangkan skenario di mana Amerika Serikat akan berada dalam posisi untuk melanggar kedaulatan Denmark,” kata Macron kepada France 2, dilansir AFP, Rabu (07/01/2026).
Macron juga menegaskan status Greenland sebagai wilayah otonom yang tetap berada di bawah Kerajaan Denmark. Menurutnya, prinsip kedaulatan dan integritas wilayah merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas global, terlebih di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks. Pernyataan itu ia sampaikan di sela-sela pertemuan puncak para sekutu Ukraina, yang turut membahas keamanan dan kerja sama internasional.
“Greenland adalah wilayah di bawah kedaulatan Denmark, dan akan tetap demikian,” tegas Macron.
Pernyataan Presiden Prancis tersebut menjadi penyeimbang di tengah narasi yang kembali disuarakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pidatonya di hadapan Kongres AS, Trump secara terbuka mengulang ambisinya untuk membawa Greenland ke dalam pengaruh Amerika Serikat. Trump menilai wilayah tersebut memiliki potensi strategis besar bagi masa depan negaranya.
“Bersama-sama, kita akan membawa Grinlandia pada pencapaian yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya,” kata Donald Trump, sembari menambahkan, “dengan satu atau cara lainnya, kita akan mendapatkannya.”
Pernyataan Trump tersebut langsung menuai perhatian internasional dan memicu kekhawatiran akan kemungkinan meningkatnya ketegangan diplomatik. Greenland, yang memiliki posisi strategis di kawasan Arktik serta kekayaan sumber daya alam, memang kerap dipandang sebagai wilayah penting dalam persaingan global.
Namun, dari pihak Greenland sendiri, sikap penolakan disampaikan secara tegas oleh Perdana Menteri Mute Egede. Ia menekankan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya berada di tangan rakyatnya, bukan ditentukan oleh kekuatan asing. Melalui pernyataan di media sosial, Egede menepis segala kemungkinan penjualan atau pengambilalihan wilayahnya.
“Kami tidak untuk dijual dan tidak bisa begitu saja diambil,” tulisnya dalam sebuah unggahan di Facebook. “Kami tidak ingin menjadi orang Amerika… pihak Amerika dan pemimpinnya harus memahami itu.”
Sikap tegas Greenland tersebut sejalan dengan pandangan Denmark dan negara-negara Eropa yang menilai bahwa stabilitas kawasan Arktik hanya dapat terjaga melalui dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional. Pernyataan Macron pun dipandang sebagai bentuk solidaritas Eropa terhadap Denmark sekaligus sinyal politik bahwa isu kedaulatan tidak bisa diperlakukan sebagai komoditas negosiasi.
Di tengah meningkatnya rivalitas global, isu Greenland kembali menunjukkan bagaimana kepentingan strategis dapat memicu perdebatan diplomatik. Meski demikian, pernyataan para pemimpin dunia menegaskan satu hal, bahwa kedaulatan dan kehendak rakyat tetap menjadi prinsip yang tidak dapat ditawar. []
Siti Sholehah.
