Medvedev Peringatkan Risiko Global Jika Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir

JAKARTA – Berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia kembali memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas keamanan global. Pejabat keamanan senior Rusia sekaligus mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, menilai keputusan untuk membiarkan perjanjian tersebut kedaluwarsa dapat meningkatkan risiko bencana besar yang mengancam umat manusia.

Perjanjian yang dimaksud adalah New START, kesepakatan pengendalian senjata nuklir strategis yang ditandatangani pada 2010 ketika Medvedev menjabat sebagai Presiden Rusia. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis dan sistem peluncur yang dapat dimiliki oleh Moskow dan Washington. Namun, masa berlaku New START dijadwalkan berakhir pada Kamis, kecuali terdapat kesepakatan di menit-menit terakhir antara kedua negara.

Medvedev menyoroti bahwa absennya perjanjian pengendalian senjata nuklir akan membawa dunia ke fase ketidakpastian baru. Menurutnya, meski berakhirnya New START tidak serta-merta memicu perang nuklir, kondisi tersebut tetap harus menjadi peringatan keras bagi komunitas internasional.

“Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini (membiarkan perjanjian berakhir) segera berarti bencana dan perang nuklir akan dimulai, tetapi hal itu tetap harus membuat semua orang khawatir,” kata Medvedev kepada Reuters sebagaimana dilansir, Selasa (03/02/2026).

Ia menambahkan bahwa situasi global saat ini semakin mendekati titik kritis, yang kerap dianalogikan dengan “jam kiamat” atau doomsday clock, simbol yang digunakan untuk menggambarkan seberapa dekat dunia dengan kehancuran akibat ulah manusia.

“Waktu terus berjalan dan jelas harus dipercepat,” katanya, merujuk pada “jam kiamat” simbolis yang mengukur kemungkinan bencana buatan manusia yang menghancurkan dunia.

Pernyataan Medvedev muncul di tengah sinyal kuat dari Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan tidak akan memperpanjang perjanjian tersebut. Trump sebelumnya menegaskan bahwa ia siap membiarkan New START berakhir tanpa menerima tawaran Moskow untuk secara sukarela memperpanjang pembatasan penempatan senjata nuklir strategis, yakni senjata dengan daya hancur tinggi dan jangkauan antarbenua.

Dalam wawancara dengan New York Times bulan lalu, Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan baru yang lebih menguntungkan dapat dicapai setelah New START berakhir. “Jika berakhir, ya berakhir… Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik,” ujar Trump saat itu.

Di sisi lain, Washington juga mendorong agar China dilibatkan dalam pembicaraan pengendalian senjata nuklir. AS beralasan bahwa Beijing kini menjadi kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia dan memiliki peran signifikan dalam keseimbangan strategis global. Namun, China secara tegas menolak bergabung dalam perundingan tersebut dan menyatakan tidak tertarik mengikuti mekanisme yang selama ini hanya melibatkan AS dan Rusia.

Berakhirnya New START berpotensi menandai runtuhnya salah satu pilar utama arsitektur pengendalian senjata nuklir internasional. Para pengamat menilai, tanpa adanya kesepakatan yang mengikat, perlombaan senjata nuklir bisa kembali meningkat, memperbesar risiko salah perhitungan dan eskalasi konflik di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat, termasuk perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *