Mural Baru di Teheran Jadi Pesan Keras Iran ke Amerika Serikat
TEHERAN – Pemerintah Iran kembali menyampaikan pesan keras kepada Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kedua negara. Kali ini, peringatan tersebut disampaikan melalui peresmian sebuah mural baru yang dipasang di Alun-alun Enghelab, salah satu ruang publik paling strategis di pusat Kota Teheran. Mural tersebut secara simbolik menggambarkan ancaman balasan Iran apabila AS kembali melancarkan serangan militer terhadap negara itu.
Mural yang diresmikan pada Minggu (25/0/20261) waktu setempat tersebut menampilkan ilustrasi sejumlah pesawat tempur AS dalam kondisi rusak di dek penerbangan sebuah kapal induk. Di dalam mural itu juga tertulis slogan bernada peringatan berbunyi, “Jika ingin menebar angin, Anda akan menuai badai.” Pesan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai peringatan langsung Iran terhadap potensi agresi militer dari Washington.
Peresmian mural ini berlangsung bertepatan dengan pergerakan kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, beserta sejumlah kapal perang lainnya menuju kawasan Timur Tengah. Langkah militer AS tersebut sebelumnya telah memicu respons keras dari Teheran yang menilai pengerahan armada itu sebagai bentuk tekanan politik dan militer.
Presiden AS Donald Trump sendiri mengakui adanya pengerahan kekuatan militer tersebut. Ia menyebut langkah itu diambil sebagai antisipasi jika opsi militer perlu ditempuh.
“Kita memiliki armada besar yang bergerak menuju ke arah tersebut, dan mungkin kita tidak perlu menggunakannya,” kata Trump pada Kamis (22/01/2026) lalu.
Alun-alun Enghelab selama ini dikenal sebagai lokasi yang kerap digunakan pemerintah Iran untuk menyampaikan pesan politik kepada publik, baik dalam konteks domestik maupun internasional. Otoritas Iran secara berkala mengganti mural yang terpajang di lokasi tersebut sesuai dengan peristiwa nasional atau perkembangan geopolitik global yang dianggap penting.
Ketegangan antara Iran dan AS semakin meningkat setelah gelombang unjuk rasa antipemerintah melanda sejumlah kota di Iran pada awal Januari lalu. Aksi demonstrasi tersebut berujung pada tindakan represif aparat keamanan yang menewaskan ribuan orang dan menyebabkan puluhan ribu lainnya ditahan. Situasi ini menuai kecaman internasional, termasuk dari pemerintah AS.
Trump sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan militer jika Iran terus melakukan kekerasan terhadap demonstran atau melaksanakan eksekusi mati secara massal terhadap para tahanan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, tidak ada laporan mengenai unjuk rasa lanjutan di Iran.
Trump bahkan mengklaim bahwa pemerintah Teheran membatalkan rencana eksekusi mati terhadap sekitar 800 demonstran yang ditahan. Klaim tersebut langsung dibantah oleh Jaksa Iran yang menyebut pernyataan Trump itu “salah sepenuhnya”.
Meski demikian, Trump menegaskan dirinya masih membuka berbagai opsi. Ia menyebut bahwa jika tindakan militer dilakukan, dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan pengeboman fasilitas nuklir Iran yang dilakukan AS pada Juni tahun lalu.
Selain mengerahkan kapal induk, militer AS juga mengirimkan sejumlah jet tempur F-15E Strike Eagle ke kawasan Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan melalui media sosial bahwa pengerahan jet tempur tersebut bertujuan untuk “meningkatkan kesiapan tempat dan mempromosikan keamanan serta stabilitas regional”.
Sementara itu, Komandan Garda Revolusi Iran memperingatkan pada Sabtu (24/01/2026) bahwa pasukannya berada dalam kondisi siaga tinggi.
Ia menegaskan bahwa kekuatan militer Iran saat ini “lebih siap dibandingkan sebelumnya, dengan jari ada di pelatuk”.
Pemasangan mural bernada ancaman tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi komunikasi politik Iran, yang memadukan simbol visual dengan pesan militer untuk menunjukkan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik terbuka dengan AS. []
Siti Sholehah.
