Nadiem Paparkan Makna Empat Pesan Strategi di Grup Edu Org

JAKARTA – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, memberikan penjelasan mengenai isi percakapan dalam grup WhatsApp yang sempat menyinggung frasa “mengganti manusia dengan software” hingga pembentukan tim baru untuk berkoordinasi dengan pihak eksternal. Penjelasan tersebut disampaikan saat dirinya menjadi saksi dalam persidangan perkara dugaan korupsi pengadaan perangkat Chromebook di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (09/03/2026).

Dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Jakarta tersebut, Nadiem menjelaskan bahwa percakapan itu berasal dari grup WhatsApp bernama “Edu Org”. Grup tersebut, menurutnya, dibuat sebelum ia resmi menjabat sebagai menteri.

Perkara yang tengah disidangkan melibatkan tiga terdakwa, yakni Mulyatsyah yang menjabat sebagai Direktur SMP di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tahun 2020, Sri Wahyuningsih selaku Direktur Sekolah Dasar pada Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah periode 2020–2021, serta konsultan bernama Ibrahim Arief atau Ibam.

Dalam keterangannya di persidangan, Nadiem menjelaskan bahwa grup WhatsApp tersebut dibentuk ketika ia memperoleh informasi awal bahwa dirinya berpotensi ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan. Ia menyebut pembuatan grup tersebut sebagai langkah persiapan karena latar belakangnya bukan berasal dari dunia pendidikan.

“Grup ini dibentuk di sekitar bulan Agustus atau apa, pada saat saya pertama menerima bocoran bahwa saya mungkin akan diangkat menjadi Menteri Pendidikan. Ya. Jadi saya membuat grup itu karena saya tidak punya latar belakang pendidikan. Saya hanya punya latar belakang di swasta, di bidang teknologi, dan di bisnis. Tapi saya punya passion yang sangat besar untuk pendidikan. Tapi saya tidak punya latar belakangnya,” ujar Nadiem di hadapan majelis hakim.

Ia menjelaskan bahwa grup tersebut dibuat untuk menghimpun sejumlah orang dengan keahlian berbeda yang dinilai mampu membantu proses transformasi pendidikan apabila dirinya benar-benar menjabat sebagai menteri.

“Jadi yang saya lakukan adalah untuk preparasi kalau benar itu kejadian akan terjadi, saya membuat grup ini dengan memprioritaskan orang-orang di berbagai ekspertis mereka sendiri yang punya kemungkinan besar punya motivasi untuk bergabung dalam tim dalam melakukan transformasi pendidikan. Itu adalah konteks daripada pembuatan grup Edu Org ini yang tadi setelah itu saat saya menjadi menteri berubah namanya menjadi Mas Menteri Core Team,” ujar Nadiem.

Dalam persidangan, jaksa juga menyinggung empat poin pesan yang terdapat dalam percakapan grup tersebut. Poin tersebut berisi sejumlah kalimat berbahasa Inggris mengenai strategi organisasi, termasuk penggunaan teknologi dalam birokrasi.

Menanggapi poin pertama yang berbunyi “remove humans and replace with software”, Nadiem menegaskan bahwa maksud pernyataan tersebut adalah mendorong efisiensi kerja melalui otomatisasi sistem.

“Poin satu adalah remove humans and replace with software. Maksudnya di sini tujuannya adalah efisiensi baik anggaran maupun waktu. Banyak sekali di dalam birokrasi ada pekerjaan-pekerjaan manual seperti contohnya di baik seperti saya sekarang sebagai terdakwa banyak sekali surat-surat dan menyurat yang terjadi yang sebenarnya itu merepotkan sekali semua pihak-pihak yang sebenarnya bisa diotomasi. Maksud saya untuk menggantikan tugas-tugas yang manual itu dengan software adalah otomasi,” kata Nadiem.

“Sehingga manusianya bisa fokus kepada hal-hal yang benar-benar membutuhkan energi dan karyanya,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan poin kedua mengenai pencarian agen perubahan internal di kementerian.

“Poin kedua, Find internal change agents and empower them adalah mencari orang-orang terbaik di dalam kementerian dan yang bertahun-tahun dihiraukan oleh pemimpin, bertahun-tahun mereka nggak pernah dapat atensi karena mereka orang jujur, mereka orang yang kerja keras tapi tidak pernah dinaikkan di dalam posisi yang penting,” ujar Nadiem.

Find internal agents and empower them artinya itu, menemukan orang-orang hebat di dalam kementerian dan memberikan mereka tanggung jawab dalam suatu project yang penting bukan cuma mengesampingkan mereka,” lanjutnya.

Untuk poin ketiga, Nadiem menyebut gagasan tersebut bertujuan membuka peluang bagi pihak luar yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan agar dapat ikut berkontribusi.

“Poin ketiga, bring in fresh blood from outside. Ini artinya adalah membawa orang-orang dari luar yang punya passion dengan pendidikan untuk juga bisa berkontribusi. Bukan hanya artinya seperti stafsus dari luar masuk atau tim teknologi tetapi juga organisasi-organisasi masyarakat. Program pertama yang kami luncurkan pada saat saya menjabat jadi menteri adalah program POP di mana ormas-ormas dan berbagai macam yayasan-yayasan berkontribusi untuk melakukan transformasi sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, poin terakhir berkaitan dengan pembentukan tim baru yang bertugas menjalin koordinasi dengan berbagai lembaga eksternal yang terlibat dalam reformasi pendidikan.

“Dan yang terakhir adalah build new teams di dalam kementerian untuk koordinasi semua institusi-institusi luar itu yang sudah bergerak di dalam reformasi pendidikan,” imbuh Nadiem.

Kasus yang sedang disidangkan berkaitan dengan dugaan korupsi dalam pengadaan laptop Chromebook dan sistem manajemen perangkat Chrome Device Management (CDM). Jaksa menaksir kerugian negara dalam perkara tersebut mencapai sekitar Rp 2,1 triliun.

Kerugian tersebut disebut berasal dari selisih harga pembelian laptop Chromebook yang dinilai terlalu mahal serta pengadaan CDM yang dianggap tidak diperlukan dan tidak memberikan manfaat bagi program pendidikan.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *