Negosiasi Iran-AS Jalan, Trump Masih Tutup Kartu

TEHERAN — Dinamika hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki babak baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah. Meski kedua negara diketahui telah memulai jalur dialog, ketidakjelasan arah kebijakan Washington masih menimbulkan kekhawatiran, terutama setelah Presiden AS Donald Trump memilih menutup rapat rencana strategisnya terhadap Teheran.

Berdasarkan laporan AFP dan Anadolu Agency, Minggu (01/02/2026), otoritas keamanan Iran menyebut telah ada perkembangan positif dalam proses negosiasi yang berlangsung. Namun, pernyataan tersebut dibarengi peringatan keras dari jajaran militer Iran agar Amerika Serikat tidak mengambil langkah militer yang justru berpotensi memperluas konflik.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa proses diplomatik berjalan lebih serius daripada yang digambarkan sejumlah media internasional.

“Bertentangan dengan pemberitaan media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berjalan,” kata Ali Larijani.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan posisi negaranya yang tidak menginginkan eskalasi konflik. Ia menyampaikan bahwa perang terbuka hanya akan membawa kerugian bagi semua pihak, termasuk Iran, Amerika Serikat, dan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

“Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan, dan sama sekali tidak menginginkan, perang dan sangat yakin bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan ini,” kata Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada Sabtu (31/01/2026).

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Teheran berupaya menempatkan jalur diplomasi sebagai pilihan utama, meski situasi keamanan terus memanas. Kehadiran armada militer AS di kawasan perairan sekitar Iran dinilai menambah tekanan psikologis sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan konfrontasi langsung.

Presiden AS Donald Trump sendiri mengakui bahwa dialog dengan Iran sedang berlangsung. Namun, ia menolak membeberkan tujuan akhir dari pembicaraan tersebut, baik kepada publik maupun kepada sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah.

“(Iran) sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita dapat melakukan sesuatu, jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi. Kita memiliki armada besar yang menuju ke sana,” ujar Trump kepada Fox News.

“Mereka sedang bernegosiasi,” tambahnya.

Trump menegaskan bahwa rencana AS tidak akan dibuka ke pihak lain. “Kami tidak bisa memberi tahu mereka rencananya. Rencananya adalah (Iran) sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu, jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi,” ucapnya.

Ia juga kembali menyinggung isu fasilitas nuklir Iran dan mengingatkan pada serangan militer AS terhadap fasilitas tersebut pada Juni 2025. “Terakhir kali mereka bernegosiasi, kami harus menghancurkan nuklir mereka, itu tidak berhasil. Kemudian kami menghancurkannya dengan cara yang berbeda, dan kita akan lihat apa yang terjadi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami menyampaikan peringatan tegas kepada AS dan Israel. Ia menegaskan kesiapan penuh militer Iran dalam menghadapi segala kemungkinan.

“Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu itu akan membahayakan keamanannya sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis,” kata Hatami.

“Teknologi dan keahlian nuklir Iran tidak dapat dihilangkan,” tambahnya.

Meski ketegangan meningkat, otoritas Iran membantah sejumlah isu sabotase yang beredar, termasuk ledakan di Bandar Abbas. Pemerintah setempat memastikan insiden tersebut disebabkan kebocoran gas, bukan serangan pihak tertentu. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *