Nilai Tukar Rupiah Terancam, Harga Minyak Jadi Pemicu
JAKARTA – Tekanan eksternal diperkirakan masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 6 April 2026, dengan potensi pelemahan lanjutan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Kondisi ini mencerminkan dominasi sentimen global terhadap pasar keuangan domestik, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi.
Sebelumnya, rupiah telah menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS menjelang libur Paskah pekan lalu. Pada penutupan perdagangan Kamis, 2 April 2026, rupiah spot tercatat melemah 0,11% ke posisi Rp17.002 per dolar AS. Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mengalami pelemahan sebesar Rp13 atau 0,08% ke level Rp17.015 per dolar AS, yang menjadi salah satu posisi terlemah dalam periode terkini.
Chief Analyst Doo Financial Futures (DFF) Lukman Leong menyebutkan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi dua faktor utama, yakni perkembangan konflik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah global. “Sehingga pada hari ini, Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan,” sebagaimana dilansir Kontan, Senin (06/04/2026).
Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi memperburuk kondisi neraca perdagangan serta meningkatkan tekanan inflasi domestik, yang pada akhirnya berdampak pada pelemahan mata uang nasional.
Di sisi lain, pasar juga mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, yakni non-farm payroll (NFP). Namun, pengaruh data ekonomi tersebut diperkirakan hanya bersifat jangka pendek dibandingkan sentimen geopolitik yang saat ini lebih dominan.
Dalam proyeksinya, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih bersikap hati-hati dalam merespons dinamika global yang terus berkembang.
Ke depan, stabilitas rupiah sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik serta arah harga komoditas global, khususnya minyak mentah, yang menjadi salah satu faktor utama penentu sentimen pasar keuangan domestik. []
Penulis: Vatrischa Putri Nur | Penyunting: Redaksi01
