Okupansi Hotel Solo Anjlok Saat Lebaran 2026, Pelaku Usaha Turunkan Harga

SOLO – Pelaku industri perhotelan dan restoran di Kota Solo memilih menahan bahkan menurunkan tarif selama momen Idulfitri 2026 akibat rendahnya tingkat hunian (okupansi) yang tidak mencapai target, berbeda dengan tren tahun sebelumnya yang cenderung meningkat sejak pra-Lebaran.

Kebijakan tersebut diambil setelah tingkat okupansi hotel pada hari H Lebaran tercatat hanya sekitar 50 persen. Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo, Wening Damayanti, menyebut kondisi ini menjadi indikator melemahnya permintaan pada periode yang biasanya menjadi puncak kunjungan wisata.

“Untuk Kota Solo, setelah saya mengambil sampel ke beberapa anggota PHRI yang ada di Solo dan sebagian Solo Raya, memang pada tanggal-tanggal hari H dan H+1 okupansi tidak cukup bagus. Rata-rata masih di 50 persen dan belum naik secara signifikan,” ungkap Wening, sebagaimana diberitakan Tribunsolo, Jumat, (27/03/2026).

Menurutnya, situasi tahun ini berbeda dibandingkan Idulfitri 2025, ketika peningkatan pemesanan kamar sudah terlihat sejak H-3. Pada 2026, hingga H-2 justru belum menunjukkan pergerakan berarti.

“Karena di tahun-tahun sebelumnya, di H-3 Lebaran sudah ada kenaikan signifikan. Ini bahkan dari H-2 masih rendah, dan di hari H naik sedikit di kisaran 50 persen,” lanjutnya.

Meski demikian, tren perbaikan mulai terlihat setelah hari Lebaran. Tingkat okupansi meningkat pada H+1 dan H+2, bahkan di beberapa hotel mencapai hampir penuh.

“Tapi setelah hari H, H+1, H+2 mulai ada kenaikan. Bahkan ada yang sangat tinggi sampai 98 persen. Rata-rata tinggi di H+1 dan H+2. Hingga saat ini masih terbilang bagus sekitar 70 persen dan diperkirakan sampai akhir pekan,” urainya.

Kendati mengalami peningkatan, capaian tersebut dinilai masih belum mampu menyamai performa tahun sebelumnya. Pelaku usaha pun menyesuaikan strategi dengan tidak menaikkan harga kamar, bahkan sebagian memilih menurunkannya guna menarik minat tamu.

“Kalau dibanding tahun lalu, pasti turun dan tidak seperti yang kami harapkan. Di tahun-tahun sebelumnya, H-3 sampai H+3 kami sudah menaikkan harga karena tahu okupansi akan tinggi di hari-hari itu,” kata dia.

Wening menambahkan, rendahnya Average Room Rate (ARR) atau rata-rata harga kamar menjadi konsekuensi dari minimnya tingkat hunian dalam setahun terakhir. Kondisi tersebut telah diprediksi sebelumnya oleh pelaku usaha di sektor perhotelan.

“Tapi di tahun ini Average Room Rate (ARR) juga rendah. Karena okupansi tidak tercapai sesuai target, harga tidak bisa tinggi dan terpaksa di H-3 masih rendah seperti hari biasa. Bahkan ada yang menurunkan harga,” jelasnya.

“Tapi di hari H dan H+1 sudah mulai ada yang menyesuaikan harga. Namun okupansi tidak sesuai dengan prediksi atau perkiraan,” pungkas Wening.

PHRI Kota Solo menilai dinamika ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pariwisata daerah, sekaligus mendorong perlunya strategi promosi dan event untuk meningkatkan kunjungan pada periode libur mendatang. []

Penulis: Andreas Chris Febrianto | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *