Operasi Tak Lazim, Deportasi Warga Palestina Libatkan Jet Sewaan

JAKARTA – Langkah otoritas Amerika Serikat mendeportasi delapan warga Palestina ke wilayah Tepi Barat menarik perhatian internasional. Bukan hanya karena tujuan deportasi tersebut, tetapi juga karena metode yang digunakan dinilai menyimpang dari prosedur lazim dan melibatkan koordinasi tingkat tinggi antara Washington dan Tel Aviv.

Menurut laporan media Israel, Haaretz, Sabtu (24/01/2026), delapan warga Palestina itu dipulangkan menggunakan jet pribadi jenis Gulfstream IV. Pesawat tersebut dilaporkan mendarat di Israel pada Rabu lalu sebelum para penumpangnya dipindahkan ke wilayah pendudukan Tepi Barat. Operasi ini oleh sejumlah pejabat keamanan disebut sebagai tindakan yang “sangat tidak biasa”.

Tidak seperti proses deportasi pada umumnya yang menggunakan penerbangan komersial, pemulangan ini dilakukan melalui penerbangan sewaan khusus. Pesawat itu diduga disewa oleh otoritas Amerika Serikat dan diyakini dimiliki oleh seorang pengusaha Israel-Amerika yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump, termasuk kerja sama di sektor properti.

Para warga Palestina tersebut dilaporkan tinggal di Amerika Serikat tanpa izin tinggal yang sah. Setibanya di Israel, mereka langsung diserahkan kepada petugas Layanan Penjara Israel, dengan pengawalan pejabat dari Kementerian Luar Negeri Israel. Proses ini menunjukkan adanya koordinasi lintas lembaga yang jarang terjadi dalam kasus deportasi imigran.

Dari bandara, kedelapan orang tersebut kemudian dibawa ke pos pemeriksaan militer di dekat permukiman ilegal Israel di Modi’in Illit. Di lokasi tersebut, mereka diserahkan kepada Administrasi Sipil Israel sebelum akhirnya dilepaskan menuju wilayah Tepi Barat.

Sumber yang dikutip Haaretz menyebutkan bahwa deportasi ini dilakukan menyusul permintaan khusus dari Washington kepada Tel Aviv. Badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, dilaporkan memberikan persetujuan setelah memastikan bahwa individu-individu tersebut tidak memiliki catatan atau risiko keamanan.

Rekaman video yang diperoleh Haaretz memperlihatkan salah satu warga Palestina turun dari tangga pesawat dalam kondisi tangan diborgol dan dikelilingi oleh petugas keamanan Israel. Penerbangan tersebut juga dilaporkan singgah di Irlandia dan Bulgaria untuk mengisi bahan bakar sebelum tiba di Israel.

Dari sisi biaya, penggunaan jet pribadi ini menimbulkan tanda tanya. Dengan tarif sewa pesawat sekitar US$15.000 per jam, total biaya penerbangan pulang pergi diperkirakan mencapai US$300.000. Angka tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan deportasi melalui jalur komersial, sehingga memunculkan spekulasi mengenai urgensi dan pertimbangan politik di balik keputusan tersebut.

Hingga kini, baik Kementerian Luar Negeri Israel maupun Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tel Aviv belum memberikan pernyataan resmi terkait operasi deportasi tersebut. Ketiadaan klarifikasi ini semakin memicu pertanyaan publik mengenai latar belakang dan tujuan penggunaan metode yang tidak lazim dalam pemulangan delapan warga Palestina tersebut. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *