Pemimpin Separatis Yaman Kabur ke UEA di Tengah Eskalasi Konflik
SANAA – Situasi politik dan keamanan di Yaman kembali memanas setelah pemimpin kelompok separatis selatan, Aidaros Alzubidi, dilaporkan meninggalkan negaranya dan melarikan diri ke Uni Emirat Arab (UEA). Kepergian Alzubidi terjadi di tengah eskalasi konflik bersenjata dan kegagalannya menghadiri perundingan politik yang digelar di Riyadh, Arab Saudi.
Alzubidi, yang dikenal sebagai pemimpin Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), dituduh melakukan pengkhianatan tingkat tinggi oleh otoritas Yaman. Tuduhan tersebut berujung pada pencopotannya dari Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman pada Rabu (07/01/2026) waktu setempat. Keputusan itu diambil setelah kelompok separatis yang dipimpinnya berusaha merebut kendali atas sebagian besar wilayah strategis di selatan Yaman.
Absennya Alzubidi dalam pembicaraan politik di Riyadh memperburuk ketegangan. Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi merespons situasi tersebut dengan melancarkan serangan udara ke wilayah asal Alzubidi. Operasi militer ini menargetkan sejumlah posisi yang diduga dikuasai oleh kelompok separatis, sebagai bagian dari upaya menekan pemberontakan internal yang semakin mengancam stabilitas pemerintahan Yaman.
Rencana pelarian Alzubidi terungkap melalui pernyataan resmi koalisi pimpinan Saudi. Dalam pernyataannya, koalisi menyebut bahwa pelarian tersebut dilakukan secara terencana dengan memanfaatkan jalur laut dan udara.
“Intelijen yang dapat diandalkan menunjukkan bahwa Aidaros Alzubidi dan beberapa orang lainnya telah melarikan diri pada tengah malam,” sebut koalisi pimpinan Saudi dalam pernyataan pada Kamis (08/01/2026) waktu setempat.
Menurut keterangan tersebut, Alzubidi berangkat dari Aden menggunakan kapal menuju Berbera di Somaliland, sebuah wilayah yang memisahkan diri di kawasan Tanduk Afrika. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan udara dengan pesawat buatan Rusia menuju Mogadishu, sebelum akhirnya terbang ke Abu Dhabi.
Koalisi juga menyebutkan bahwa perjalanan udara tersebut dilakukan “di bawah pengawasan pejabat UEA”. Alzubidi dilaporkan mendarat di bandara militer Abu Dhabi pada Rabu malam waktu setempat. Hingga kini, pihak otoritas UEA belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.
Pelarian Alzubidi menambah kompleksitas konflik Yaman yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bulan lalu, kelompok STC melancarkan serangkaian serangan yang memperburuk kondisi keamanan di negara tersebut. Yaman sendiri dikenal sebagai negara termiskin di Semenanjung Arab, dengan krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kelompok STC yang didukung UEA berupaya menghidupkan kembali wacana kemerdekaan Yaman Selatan, yang pernah berdiri sebagai negara terpisah sebelum bersatu dengan Yaman Utara pada 1990. Setelah serangan udara koalisi Saudi, Alzubidi bahkan sempat mendeklarasikan masa transisi selama dua tahun menuju kemerdekaan, termasuk rencana penyelenggaraan referendum.
Konflik ini juga menyingkap retakan serius antara Arab Saudi dan UEA, dua negara Teluk yang sebelumnya menjadi sekutu utama dalam memerangi kelompok Houthi yang didukung Iran. Saat ini, kedua negara justru mendukung faksi-faksi berbeda dalam pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, memperumit upaya penyelesaian konflik dan memperpanjang instabilitas kawasan. []
Siti Sholehah.
