Penangkapan Maduro Guncang Kepentingan Strategis Cina

JAKARTA – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat memicu reaksi keras dari Pemerintah Cina. Beberapa jam setelah operasi tersebut dilakukan, Beijing menyatakan keterkejutannya dan mengecam tindakan Washington yang dinilai sebagai penggunaan kekuatan secara sepihak terhadap negara berdaulat. Sikap ini sekaligus mencerminkan kegelisahan Cina atas perubahan dinamika geopolitik di kawasan Amerika Latin, wilayah yang selama ini menjadi medan persaingan pengaruh antara kekuatan besar dunia.

Kementerian Luar Negeri Cina menyatakan pihaknya “sangat terkejut” atas apa yang disebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip kedaulatan negara. Dalam pernyataan resminya, Beijing juga menyampaikan pesan solidaritas kepada negara-negara Amerika Latin dan Karibia, yang disebut sebagai “teman baik dan mitra baik,” dengan menegaskan kesiapan Cina untuk bekerja sama menghadapi lanskap internasional yang terus berubah melalui koordinasi dan solidaritas.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai upaya Cina menampilkan diri sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab, sekaligus kontras dengan pendekatan keras Amerika Serikat. Sejumlah pengamat menilai sikap Beijing berpotensi mendapatkan simpati di Amerika Latin, terutama di tengah kebangkitan kembali Doktrin Monroe di bawah Presiden Donald Trump, yang menegaskan dominasi Washington di Belahan Barat. Dalam konteks ini, penangkapan Maduro dipandang sebagai sinyal peringatan sekaligus demonstrasi kekuatan Amerika Serikat terhadap negara-negara di kawasan tersebut.

William Yang, analis senior Asia Timur Laut di International Crisis Group, menilai Cina kemungkinan akan memanfaatkan situasi ini untuk menantang posisi global Amerika Serikat dan “memperdalam pengaruhnya di negara-negara berkembang.” Ia juga menyebut Beijing akan “memantau secara dekat bagaimana AS menangani situasi di Venezuela dalam minggu dan bulan mendatang.”

Penangkapan Maduro memiliki implikasi ekonomi yang tidak kecil bagi Cina. Venezuela merupakan salah satu mitra strategis utama Beijing di Amerika Latin. Kedua negara telah membangun “kemitraan strategis sepanjang waktu,” dengan Cina menjadi salah satu pembeli minyak terbesar Venezuela, terutama setelah sanksi Amerika Serikat diperketat pada 2019. Selain itu, Beijing tercatat menjadi pemasok persenjataan bagi pemerintahan Maduro serta pemberi pinjaman terbesar dengan nilai mencapai puluhan miliar dolar AS.

Menurut data AidData, total pinjaman Cina ke Venezuela mencapai USD105,5 miliar, termasuk skema “oil-for-loans” bernilai USD17–19 miliar dari Bank Pembangunan Cina. Hubungan erat ini bahkan ditegaskan Maduro hanya beberapa jam sebelum penangkapannya, saat ia menyambut delegasi Cina dalam pertemuan yang ia sebut berlangsung “menyenangkan.”

Namun, setelah Maduro ditangkap, muncul laporan bahwa pemerintahan sementara Venezuela ditekan untuk memutus hubungan ekonomi dengan Cina, Rusia, Iran, dan Kuba. Presiden Trump bahkan menyebut Venezuela akan menyerahkan puluhan juta barel minyak kepada Amerika Serikat. Beijing pun mengecam langkah tersebut.

“Penggunaan kekuatan terang-terangan oleh AS terhadap Venezuela dan tuntutannya ‘America First’ ketika Venezuela mengelola sumber daya minyak sendiri adalah contoh tipikal aksi intimidasi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kemarahan Cina lebih bersifat simbolik. Elizabeth Freund Larus dari Pacific Forum menyebut retorika Beijing perlu dibaca secara realistis. “Cina tidak peduli pada hukum internasional,” katanya, sembari menyinggung sikap Beijing di Laut Cina Selatan. Menurutnya, pesan Cina kepada Washington lebih mencerminkan kepentingan ekonomi, khususnya soal pengembalian utang dan aliran minyak Venezuela.

Ryan Hass dari Brookings Institution menilai kecil kemungkinan Cina akan mengambil langkah konkret sebagai balasan. “Beijing kemungkinan tidak akan melangkah lebih jauh dari ekspresi simbolik ketidaksetujuan,” ujarnya. Ia juga menilai insiden ini tidak serta-merta mengubah arah hubungan AS-Cina, kecuali jika Amerika Serikat terseret lebih dalam ke kekacauan di Venezuela.

Di sisi lain, penangkapan Maduro turut menjadi perhatian publik Cina, termasuk dikaitkan dengan isu Taiwan. Meski demikian, para analis menilai perbandingan tersebut tidak sepenuhnya relevan mengingat perbedaan mendasar antara Venezuela dan Taiwan. Situasi ini menunjukkan bahwa kasus Maduro lebih mencerminkan persaingan kepentingan global ketimbang sekadar persoalan regional. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *