Penolakan Kurma Israel Disepakati Pedagang Oleh-oleh
JAKARTA – Kurma identik dengan tradisi berbuka puasa saat Ramadan. Selain menjadi anjuran konsumsi, buah ini juga selalu mengalami peningkatan permintaan setiap tahunnya. Namun, di tengah tingginya kebutuhan pasar, perhatian konsumen dan pedagang kini tidak lagi terbatas pada kualitas dan jenis kurma, melainkan juga pada negara asal produk tersebut.
Gelombang solidaritas terhadap Palestina turut memengaruhi pola distribusi dan penjualan kurma di sejumlah sentra perdagangan, termasuk di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sejumlah pedagang mengaku semakin selektif dalam menentukan produk yang dijual, terutama untuk memastikan tidak ada kurma yang berasal dari Israel beredar di lingkungan mereka.
Sikap tegas tersebut disampaikan Andi, pemilik jaringan toko Mekkah Group di Blok F Pasar Tanah Abang. Ia menegaskan bahwa baik di jaringan tokonya maupun di toko lain yang tergabung dalam asosiasi pedagang oleh-oleh haji dan umrah, tidak ada produk kurma asal Israel yang diperjualbelikan.
“Ini 2018 itu pernah ada masuk Indonesia. Tapi waktu itu kita kan ada asosiasinya, asosiasi pedagang oleh-oleh haji dan umrah. Kita dikasih harga murah tapi kita menolak. Banyak importir yang mau masukkan kurma Israel dengan harga murah, kita tidak mau. Dan kita klarifikasi, untuk kita di Tanah Abang ini, 100% tidak ada yang jual kurma Israel,” tegas Andi saat ditemui detikcom, Rabu (25/02/2026).
Ia menjelaskan, salah satu jenis kurma yang kerap dikaitkan dengan Israel adalah Medjool. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua kurma Medjool berasal dari negara tersebut. Produksi Medjool juga banyak ditemukan di Palestina dan Namibia.
Menurut Andi, ada beberapa merek yang diketahui berasal dari Israel dan perlu diwaspadai, seperti King Solomon dan Nava Fresh.
“King Solomon, ya. Habis itu ada Nava Fruit, ada beberapa lagi, tapi kita nggak ada yang masuk ke sana. Kalau kita di asosiasi pedagang oleh-oleh haji dan umrah, kita menolak keras,” ucapnya.
Dari sisi fisik, ia menyebut terdapat perbedaan ukuran antara Medjool asal Israel dan Palestina. Kurma dari Palestina, khususnya dari wilayah Yerikho, disebut memiliki ukuran relatif lebih besar. Meski demikian, secara kasatmata perbedaannya tidak selalu mudah dikenali oleh masyarakat awam.
“Kalau bentuk memang ada rancunya. Karena Israel-Palestina kan gandeng ya, kayak Jakarta-Bekasi. Kalau orang nggak tahu itu kurma, sekilas mirip. Cuma memang kalau kita sebagai pedagang, seleksinya bisa. Kalau kurma dari Palestina memang dia punya ukuran yang lebih besar,” jelasnya.
Terkait rasa, Andi mengaku tidak dapat membandingkan secara langsung karena tidak pernah mencicipi produk yang diduga berasal dari Israel.
“Perbedaan rasa saya nggak tahu. Saking saya nggak mau, saya waktu itu dikirim contoh saja nggak saya makan, saya buang,” ujar Andi lagi.
Ia menambahkan, mayoritas pasokan kurma yang beredar di Indonesia berasal dari Mesir, Uni Emirat Arab, Tunisia, dan Aljazair. Untuk Medjool, para pedagang di Tanah Abang memilih mengambil dari Palestina dan Namibia guna memastikan kejelasan asal produk.
“Saya klarifikasi kalau untuk Pasar Tanah Abang nggak ada. Kalau tempat lain saya kurang paham. Kalau untuk di Indonesia ini, kurma Medjool pun kita adanya yang dari Palestina dan Namibia, Afrika. Selain itu kita nggak pakai,” terangnya.
“Walaupun mereka branding dari Yordania atau dari Palestina, nggak. Kalau kita ambil dari peternakan. Memang kita maunya kalau kurma Palestina ini dari Yerikho, dari desa Yerikho di Palestina,” tegas Andi lagi.
Langkah selektif tersebut mencerminkan perubahan pola konsumsi sekaligus komitmen sebagian pelaku usaha dalam merespons isu global. Di tengah meningkatnya permintaan kurma selama Ramadan, aspek asal-usul produk kini menjadi pertimbangan penting dalam rantai distribusi dan keputusan pembelian. []
Siti Sholehah.
