Penumpang Tunanetra Terjatuh, Transjakarta Lakukan Evaluasi
JAKARTA – Sebuah peristiwa yang menimpa penyandang tunanetra di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, menuai perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial. Perempuan tersebut diketahui merupakan penumpang layanan Transjakarta Cares, layanan khusus yang disediakan bagi penyandang disabilitas. Dalam rekaman yang beredar, korban tampak berada dalam kondisi pakaian kotor, diduga akibat terjatuh ke saluran air di sekitar lokasi.
Peristiwa itu memunculkan sorotan terhadap aspek keselamatan dan pendampingan dalam layanan transportasi publik, khususnya bagi kelompok rentan. Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut diduga terjadi karena penumpang tidak mendapatkan pendampingan hingga mencapai titik aman tujuan perjalanan.
Menanggapi kejadian tersebut, manajemen Transjakarta menyampaikan sikap resmi dan menyatakan telah berkomunikasi langsung dengan penumpang yang bersangkutan. Pihak Transjakarta menyatakan penyesalan atas insiden tersebut dan berkomitmen memberikan perhatian kepada korban.
“Kami menyesalkan kejadian tersebut dan telah berkomunikasi dengan pelanggan. Transjakarta siap memberikan perhatian serta pendampingan kepada pelanggan yang bersangkutan,” ujar Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Masyarakat Transjakarta, Tjahyadi DPM, dalam keterangan tertulis.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Transjakarta tidak mengabaikan insiden tersebut dan berupaya memastikan kondisi penumpang yang mengalami musibah tetap mendapatkan dukungan. Selain pendampingan kepada korban, pihak perusahaan juga menyatakan tengah melakukan langkah-langkah perbaikan internal.
Menurut Tjahyadi, evaluasi internal saat ini sedang berlangsung guna menelusuri secara menyeluruh kronologi kejadian, termasuk mekanisme pendampingan petugas di lapangan. Evaluasi tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi celah pelayanan yang berpotensi membahayakan keselamatan penumpang disabilitas.
“Saat ini kami melakukan evaluasi internal dan memperkuat kembali standar pelayanan agar kejadian serupa tidak terulang,” jelasnya.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya konsistensi penerapan standar operasional prosedur dalam layanan publik yang menyasar penyandang disabilitas. Layanan Transjakarta Cares sendiri dirancang sebagai fasilitas pendukung mobilitas warga disabilitas di DKI Jakarta, dengan tujuan memastikan akses transportasi yang aman, inklusif, dan setara.
Layanan tersebut menyediakan pendampingan khusus dari petugas bagi penyandang disabilitas untuk menuju halte Transjakarta yang ramah disabilitas. Fasilitas ini dapat diakses secara gratis dan diharapkan mampu menjawab kebutuhan mobilitas kelompok difabel di wilayah ibu kota.
Namun, peristiwa yang terjadi di Bulungan ini menimbulkan pertanyaan mengenai implementasi layanan di lapangan, khususnya terkait pendampingan hingga penumpang benar-benar berada di lokasi yang aman. Bagi penyandang tunanetra, lingkungan sekitar seperti saluran air terbuka dapat menjadi risiko serius apabila tidak disertai pengawasan dan bantuan yang memadai.
Sejumlah pengamat layanan publik menilai kejadian ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendampingan, pelatihan petugas, serta koordinasi antarunit operasional. Keselamatan penumpang, terutama penyandang disabilitas, dinilai harus menjadi prioritas utama dalam setiap layanan transportasi umum.
Transjakarta menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada evaluasi internal, tetapi juga diikuti dengan penguatan pengawasan dan peningkatan kesadaran petugas di lapangan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa transportasi publik yang inklusif tidak hanya soal ketersediaan layanan, tetapi juga konsistensi pendampingan dan perlindungan nyata bagi setiap penumpang. []
Siti Sholehah.
